Aku Yang Lain

Menurut penulis Irlandia, George Bernard Shaw, kejahatan atau dosa yang lebih parah terhadap sesama bukanlah kebencian, melainkan sikap masa bodoh atau indifference terhadap kemanusiaan. Apa itu kemanusiaan, disodorkan oleh klip video Divisi Humas Polri yang belakangan ini mendapat kritik dari netizen karena dianggap menyudutkan atau memfitnah golongan tertentu. Ini klip videonya.

IMHO, mayoritas komentar negatif muncul karena komentatornya mengabaikan kaidah-kaidah naratif sehingga terjadi suatu pemerkosaan teks: orang lebih mengedepankan framing, asumsi atau prasangka subjektifnya sendiri, tak peduli konteks, tak peduli struktur naratifnya [Maklum, sudah sekian lama di negeri ini perhatian terhadap ilmu humaniora, ilmu kemanusiaan, yang salah satunya bisa ditempuh dengan kajian sastra, sebegitu kecilnya, kalau tak bisa dianggap nol]. Jika orang melihatnya dengan kaidah naratif, justru pesan sebaliknya yang diperoleh: bahwa Islam adalah agama kemanusiaan.

Akan tetapi, ini bukan pelajaran kritik sastra ya. Bacaan hari ini memuat catatan berikut: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah bunyi golden rule yang menempatkan sesama sebagai ‘aku yang lain’, tanpa atribut, melampaui label SARA. Sabda Allah, bagaimanapun itu mau diistilahkan seturut tradisi agama tertentu, jika dihidupi dengan sepenuh hati, menyatakan Hukum Allah yang pada saat bersamaan juga menjawab problem kemanusiaan. Artinya, aku memandang yang lain sebagai perpanjangan diriku, ‘aku yang lain’.

Kalau begitu, betul juga yang dikatakan George Bernard Shaw, bahwa lebih mengerikanlah sikap indifferent. Ini bukan sikap lepas bebas sebagaimana ditawarkan Azas dan Dasar dalam Latihan Rohani, melainkan sikap masa bodoh yang membuat orang jadi numb terhadap kemanusiaan dalam diri sesama. Sikap ini bisa punya kontribusi pada spiritualisme yang pada gilirannya memupuk formalisme yang bisa juga berujung pada radikalisme, salah satu pé èr bangsa ini, termasuk Polri. Ini bukan pekerjaan rumah yang gampang karena rupanya benih-benih radikalisme itu sudah merebak. Indikatornya bisa juga dilihat dari komentar-komentar pedas dalam media sosial.

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin mampu berempati dengan ‘kami yang lain’ dan membangun kerohanian yang akomodatif terhadap kemanusiaan. Amin.


Selasa Biasa XII A/1
27 Juni 2017

Kej 13,2.5-18
Mat 7,6.12-14

Selasa Biasa XII C/2 2016: Puasa Maksimal
Selasa Biasa XII B/1 2015: Biarkan Babinya Tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s