Walk Out

Tahukah Anda bahwa terjadi aksi walk out jemaah di tengah-tengah khotbah pemuka agama di Gunung Kidul beberapa waktu lalu. Saya agak terkejut membacanya. Saya pernah sih mengalami beberapa orang walk out saat saya berkhotbah: ngemong bayi, ke belakang, atau mungkin benci setengah mati pada saya. Masih bisa dibilang normallah. [Yang pantas dipertanyakan ialah kalau setiap awal khotbah orang selalu walk out ke kamar kecil, ada apa dengan orang ini dan kamar kecilnya ya?] Tapi kalau sampai ratusan dari ribuan orang walk out akibat isi khotbah, memang pantas jadi tanda tanya besar.

Konon, kementrian agama rupanya sudah memberi wanti-wanti supaya momen hari raya diisi dengan khotbah yang lebih memupuk kerukunan warga. Lha kok ndelalahnya muncul pengkhotbah yang menyinggung isu penistaan agama di ibu kota yang kontroversial itu. Barangkali aksi walk out macam itu justru memunculkan harapan positif terhadap upaya para pemeluk agama nan cerdas untuk memupuk kewarasan hidup berbangsa dan bernegara. Kalau anjuran kementrian agama tak diindahkan, yang memang baik untuk memupuk semangat kebangsaan, barangkali ada baiknya juga pemeluk agama memberi kritik dengan cara lain. 

Bacaan hari ini menyinggung bagaimana pohon dikenal dari buahnya, dari hasilnya. Memang, dari isi khotbah seseorang, Anda tak bisa menghakimi bahwa orang itu begini atau begitu. Dari isi khotbah, Anda hanya bisa menyimpulkan bagaimana alur logikanya ‘jalan’. Kalau ‘jalan’, Anda menerimanya, kalau ‘tidak masuk’, Anda mengabaikannya, dan mungkin sampai tindakan walk out seperti dibuat jemaah di Gunung Kidul itu. Andaikan memang jemaah di Gunung Kidul itu walk out karena isi khotbah yang berbau SARA, itu artinya mereka yang walk out menggunakan akal sehat mereka bahkan saat mendengarkan siraman (yang seharusnya) rohani dari pemuka agama.

Apakah saya mempromosikan walk out saat khotbah? Hahaha, ya tidak. Akan sangat bergantung pada konteks hidup setiap orang. Coba promosikan itu pada pasien di rumah sakit yang tidak suka obat yang perlu diminumnya saat opname dan pilih walk out! Setiap orang mesti menimbang-nimbang, dengan akal sehatnya, buah baik apa yang bisa dihasilkan. Dasarnya adalah janji Allah sendiri seperti diceritakan dalam bacaan pertama tentang Abram yang diberi janji sebagai bapak bangsa-bangsa dengan keturunan sak ndondlang atau hohah. Lha kalau Allah sendiri memberi janji kepada Abram menjadi bapak bangsa-bangsa, mosok iya orang-orang beragama malah mau membelah diri dengan isu-isu agama yang gak mutu?

Merealisasikan janji Allah kepada Abram itu juga kiranya bisa ditautkan dengan adagium yang dilontarkan Santo Irenaeus diperingati Gereja Katolik hari ini: Gloria Dei homo vivens. Kemuliaan Allah itu ada pada manusia yang hidup. Konon, menurut falsafah Sunan Kalijaga bunyinya: urip kuwi kang urup. Begitulah jika orang mau merealisasikan janji Allah kepada Abram: membuat hidup yang bernyala, dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan; apapun pekerjaan, jabatan, status, agama, suku, dan lain sebagainya. Kalau pikiran-perkataan-perbuatan loyo, jangan-jangan tak ada cinta Allah di situ. Perlu walk out, bukan dari janji Allah, melainkan dari kenyinyiran cinta diri.

Ya Tuhan, semoga vitalitas sehari-hariku sungguh tertambat pada api cinta-Mu. Amin.


RABU BIASA XII A/1
Peringatan Wajib S. Irenaeus
28 Juni 2017

Kej 15,1-12.17-18
Mat 7,15-20

Rabu Biasa XII C/2 2016: Mau Jus Valak?
Rabu Biasa XII A/2 2014: Cara Bongkar Topeng Hipokrit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s