Met Ultah Pak Ahok

Katanya ini hari ultah Pak Ahok. Baik juga saya sitirkan kalimat yang kiranya pernah dibaca Pak Ahok, entah di dalam atau di luar penjara: Baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari cinta Allah. Itu adalah kata-kata Paulus; dan karena dia Kristiani, tentu diembel-embeli dengan frase ‘yang ada dalam Tuhan Yesus Kristus’. Tak perlu nyinyir dengan frase tambahan itu karena kenyinyiran di situ malah cuma membuat orang tak bisa move on dari dimensi historis belaka. Padahal, yang dibutuhkan orang sepanjang zaman dan yang dimaksud Paulus justru ialah bagaimana menghubungkan dimensi fisik ruang-waktu historis dengan cinta Allah itu tadi.

Loh, katanya tidak akan ada yang bisa memisahkan orang dari cinta Allah, berarti terhubung dong, kok malah dipersoalkan bagaimana menghubungkan dimensi historis dengan cinta Allah? Romo ki ya aneh-aneh aja; yang sederhana malah dibikin rumit!

Mari lihat apa rumitnya. Pikir kita, gampang kan melihat diri kita laki-laki atau perempuan? Itu jelas sudah, tinggal lihat bawah atau tengah atau atas atau apa deh. Nyatanya, tak sesederhana itu. Ada saja orang yang butuh waktu bertahun-tahun untuk akhirnya menerima dirinya sebagai perempuan, sebagai laki-laki, sebagai keluarga miskin, sebagai pribadi traumatik, sebagai anggota keluarga yang broken, sebagai orang yang dianggap kafir, sebagai orang Jawa, Cina, Papua, dan sebagainya. Yang belum bisa menerima keadaan dirinya itu akan mencari aneka bentuk pelarian atau penarik perhatian untuk mendapat pengakuan atas identitas yang diinginkannya: tampil sangar, tampil melambai, tampil anggun, atau tampil sasmi… #loh.

Kemampuan orang untuk menerima historisitasnya (yaitu aspek fisik yang terkena hukum sejarah) sangat berpengaruh terhadap bagaimana ia sambung dengan cinta Allah itu. Sambung dengan cinta Allah, jelas; tetapi sambung dengan cinta Allah ini bukan lagi soal apa kata orang-orang tentang cinta Allah, tentang agama, tentang kebahagiaan, dan sebagainya. Ini soal pengalaman eksistensial setiap pribadi manusia terhadap cinta Allah itu tadi, apapun agamanya. Tanpa kesadaran akan relasi cinta ini, bisa dijamin, orang terbelenggu oleh apa saja yang berdimensi historis, tak sanggup move on.

Kesadaran akan relasi seperti ini tidak dimiliki orang yang berpikir dikotomis, memisahkan Allah dari manusia. Seolah-olah Allah itu kudus nan jauh di sono dan manusia di sini brengsek belaka. Bahkan, kadang bisa terjadi dikotomi itu diterapkan antarmanusia juga.
“Ya itu kan Romo, yang punya tiga kaul hidup miskin, murni, dan taat. Kami ini kan orang biasa.”
“Lha yang minta kamu jadi romo ya siapa? Semangat miskin, murni, dan taat itu bisa diterjemahkan dalam konteks yang berbeda-beda kok. Bayangkan kalau presiden Indonesia ini tak punya semangat miskin, murni, dan taat pada cinta Allah, mau sampai kapan bangsa Indonesia jadi terbelakang karena korupsi berjemaah?”

Mari doakan para pemimpin supaya hidup konkret mereka sungguh didasari pengalaman autentik akan cinta Allah yang merangkul semakin banyak orang. Amin.


HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS
(Kamis Biasa XII A/1)
29 Juni 2017

Kis 12,1-11
2Tim 4,6-8.17-18
Mat 16, 13-19

Posting Tahun 2016: Mari Berbuka 
Posting Tahun 2015: Ada Baiknya Bertengkar

Posting Tahun 2014: What You Choose Is What You Get

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s