Ayo Tuhan, Kamu Bisa!

Saya kembali ke klip video “Kau Adalah Aku Yang Lain” yang sudah ditarik dari situs resmi divisi humas Polri. Di situ ada ungkapan yang saya tak tahu bagaimana menuliskannya, tetapi pokoknya memuat kepercayaan seperti disodorkan dalam bacaan hari ini:  Jika Tuan mau, Tuan bisa menyembuhkan aku. Ceritanya berlanjut dan karena si Tuannya mau, mak cling orang sakit menjijikkan itu sembuh. Jadi, paralel dengan itu, kalau Tuhan Yang Mahabesar itu mau, Dia pasti bisa juga melakukannya, tak ada yang bisa menghalangi. Ini juga dinarasikan dalam bacaan pertama: kalau Tuhan mau, perempuan 90 tahun pun bisa melahirkan anak; dan memang kemudian lahir anak dari rahim Sara, istri Abraham.

Mari iseng-iseng sedikit. Apakah perang di Marawi itu kemauan Tuhan? Apakah Jokowi jadi presiden itu kehendak-Nya? Bagaimana dengan dipenjaranya Ahok? Kemerdekaan Indonesia? Pembantaian ratusan ribu atau bahkan jutaan manusia? Bagaimana dengan perkawinan artis? Perceraiannya? Berantakannya keluarga? Lalu, kalau orang jadi mualaf atau murtad, kehendak siapakah itu? Hmmm…. semua yang sudah terjadi itu, apakah kehendak Tuhan? Apa kriterianya dong kalau orang mengatakan yang baik itu kehendak Tuhan dan yang gak baik itu bukan kehendak Tuhan? Njuk yang menentukan baik tidaknya itu siapa? Wudelmu po piye?

Lha ya itu tadi, namanya juga iseng-iseng; saya sendiri tak tahu jawabannya dan memang pertanyaan-pertanyaan iseng itu gak penting-penting amat untuk dijawab secara definitif. Itu cuma untuk mengantar pembaca membongkar misteri kehidupan: sejarah terjadi, sebagaimana sistem keamanan komputer, karena dinamika challenge dan response. Persoalan utamanya bukan kehendak Tuhan atau bukan, melainkan bagaimana orang menanggapi kehendak Tuhan itu. Maka, tidak bisa begitu saja dikatakan bahwa orang murtad atau jadi mualaf itu adalah kehendak Allah. Itu adalah buah dari bagaimana orang menanggapi kehendak Allah, seberapapun kadar validitasnya.

Kalau begitu, barangkali pertanyaan yang pantas disodorkan dari bacaan-bacaan hari ini ialah: seberapa intensif orang bekerja sama dengan kehendak Allah? Seberapa jauh orang beriman mengintegrasikan keinginan-keinginannya dengan kehendak Allah sendiri? Jika kehendak Allah bisa dianalogikan sebagai challenge, sejarah hidup manusia dititi dengan tanggapan terhadap challenge itu. Betul bahwa kiranya Tuhan menginginkan keselamatan seluruh umat manusia, tanpa kecuali, tetapi kalau keinginan Allah itu ditanggapi dengan kemauan atau kelekatan picik orang (harus satu agama, harus sesuku, harus sehat, harus bergaji sekian, harus bla bla bla), tanpa relasi autentik dengan pribadi Allah, hasilnya ya amburadul dan jika hasil amburadul itu diklaim “Ini sudah kehendak-Nya”, namanya mbelgedhes.

Dengan demikian, hidup manusia sebenarnya adalah proyek kerja sama dengan Allah pencipta itu. Keberhasilan proyek itu tak terletak pada ide muluk mengenai surga atau teologi tinggi tentang keselamatan, apalagi fanatisme agama, tetapi pada konkretisasi kemanusiaan yang menjangkau seluas dunia. Ini paradoks: keselamatan surgawi ditempuh melalui kemanusiaan sejati, bukan ngudung kemauan sendiri. Tak mengherankan bahwa Santa Teresa dari Kalkuta mengatakan: Kalau kamu mau naik surga, turunlah kepada mereka yang menderita dan orang-orang miskin yang butuh bantuan.

Ya Tuhan, bantulah kami untuk membebaskan diri dari aneka kelekatan supaya mampu bekerja sama dengan-Mu. Amin.


JUMAT BIASA XII A/1
30 Juni 2017

Kej 17,1.9-10.15-22
Mat 8,1-4 

Jumat Biasa XII B/1 2015: Kerja di Balik Layar? *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s