Tak Seberat Muatanku

Memikul karung beras atau dagangan bakso bisa jadi tak serumit memikul kelemahan dan penyakit orang lain. Tentu saja, karena karung beras dan dagangan bakso itu cuma objek yang bisa disiasati dengan utak-atik-otak. Mesti ada teknologi yang bisa diciptakan untuk memudahkan pekerjaan memikul objek-objek itu. Tidak begitu halnya dengan kelemahan dan penyakit orang lain karena objeknya tak lagi bisa disiasati dengan utak-atik-otak. Ini adalah sosok pribadi yang mesti memuat misteri dan apa saja yang masuk dalam kategori ini cuma bisa dihadapi dengan kerangka relasi dan relasi yang baik kiranya melampaui relasi instrumental, yaitu relasi alat memperalat atau relasi strategis untuk mencapai tujuan pihak tertentu. Ini berbeda dari relasi yang bertujuan pada saling pemahaman, lebih njelimet.

Salah satu insight yang saya dapat dari bacaan-bacaan hari ini ialah bahwa tak ada permintaan dari pihak yang lemah entah untuk disembuhkan atau dijamu. Prajurit Romawi cuma memberi informasi dan bisa jadi dia sendiri tak mengerti apa yang bisa dibuat dalam kondisi kritis hambanya. Begitu pula dengan mertua Petrus yang sakit, tidak dilukiskan oleh penulis untuk merintih minta kesembuhan. Tiga orang asing juga tidak mengajukan permohonan untuk singgah di kemah Abraham. Ini sudah dibahas dalam posting terdahulu mengenai hospitalitas. Akan tetapi, insight hari ini menerangkan kepada saya bahwa hospitalitas itu bukan karakter yang datang dari desakan luar. Hospitalitas adalah suatu tanggapan terhadap liyan [sudah masuk dalam KBBI 5], khususnya mereka yang dalam posisi lemah. Konon, orang asing dan perempuan (sakit) dalam bahasa Kitab Suci terbilang kelompok lemah.

Kalau begitu, relasi dengan Allah pun semestinya adalah relasi komunikatif yang direalisasikan dengan tindakan komunikatif ala Jürgen Habermas. Targetnya bukan deadline perolehan kesembuhan, pekerjaan, pacar, rumah, dan sebagainya, melainkan saling pemahaman: aku semakin paham siapa diriku, dan dengan demikian juga semakin paham siapa Allah bagiku. Segala kerapuhan, kelemahan, bahkan penyakitku, ditanggung oleh Dia yang juga senantiasa memahamiku. Problemnya cuma bahwa aku tidak semakin paham diriku sendiri sehingga yang dikambinghitamkan senantiasa adalah Liyan itu.

Itu memprihatinkan memang, dan untuk itulah Tuhan hadir, seturut diwartakan Yesaya: Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita. Coba kalau kita yang memikul kelemahan orang lain dan menanggung penyakitnya! Alamak! Wolo-wolo kuwato [yang nota bene saya tak tahu menuliskannya dalam bahasa Arab tapi kira-kira maksudnya memuat kepercayaan bahwa tiada daya kekuatan di luar kekuatan Allah].

Ya Allah, mohon rahmat kekuatan supaya kami mampu meluaskan hospitalitas-Mu bagi seluruh ciptaan. Amin.


SABTU BIASA XII A/1
1 Juli 2017

Kej 18,1-15
Mat 8,5-17

Sabtu Biasa XII C/2 2016: Long Distance Faith 
Sabtu Biasa XII B/1 2015: Iman Customer Service

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s