Masukin Ati Aja

“Dah gak usah masukin ati.” Anjuran seperti itulah yang kerap disodorkan kepada mereka yang bukan tipe easy going. Maksudnya tentu saja “jangan baperan” tetapi ya karena salah kaprah, perasaan itu diidentikkan dengan hati, sehingga lebih mudah orang mengatakan “jangan masukin ati” daripada “kelolalah perasaanmu”. Mungkin lebih enak didengar juga sih, tidak terasa formal.

Hélder Pessoa Câmara, seorang uskup Brazil (yang menurut Wikipedia dihubungkan dengan pernyataan When I give food to the poor, they call me a saint. When I ask why they are poor, they call me a communist), memberi anjuran yang bertolak belakang dengan ungkapan lain dari “jangan baperan” tadi. Ia justru bilang kurang lebih begini: Orang-orang jadi beban buatmu? Jangan bawa di pundak, bawalah dalam hatimu. Etdah… apa gak malah tambah baper ya? Sepertinya sih enggak, mosok uskup baperan, apalagi Hélder Câmara yang adalah promotor gerakan non-violence, haha…

Bacaan pertama hari ini mengisahkan bagaimana cinta dan perkawinan dengan Ribka menghibur Ishak yang kehilangan ibunya, Sara. Bacaan kedua mengisahkan bagaimana cinta ‘pandangan pertama’ menimpa seorang pemungut cukai bernama Matius dan bagaimana Matius bersegera mengikuti cinta yang menimpanya itu (janjane kalau dia gak tergerak juga gak apa-apa sih wong tidak ada paksaan). Menariknya dalam penuturan teks itu, cinta ‘pandangan pertama’ itu tidak tertuju pada sosok Matius-sebagai-pemungut-cukai. Ini penting dibahas. Percaya deh!

Teks bahasa Inggris berbunyi: And as Jesus passed on from there, he saw a man, called Matthew, sitting in the tax office. Teks Jermannya begini: Und als Jesus von dort weiterzog, sah er einen Mann, der Matthäus hiess, am Zoll sitzen. Ini teks Italianya: Partito di là, Gesù vide seduto al banco delle imposte un uomo chiamato Matteo. Salah satu jeleknya bahasa Indonesia ialah bahwa “orang” dipakai sebagai kata penggolong sehingga janggallah jika kita katakan “seorang orang”. Yang kerap dipakai tentu “seorang perempuan” atau “seorang laki-laki”, tetapi perempuan dan laki-laki tidak identik dengan orang, kan? Ke mana orangnya ya? Ilang… waduh.

Itulah pentingnya: Yesus melihat a man, einen Mann, un uomo, ἄνθρωπον, anthropos, manusia. Ia melihat seorang manusia. Aneh? Ya, karena kita terbiasa menghilangkan ‘orang’ tadi: karena yang penting adalah namanya, jenis kelaminnya, pakaiannya, statusnya, prestasinya, gajinya, capaian Ujian Nasionalnya, medali emas yang disabetnya, rumah mewahnya, kendaraan supernya, dan sebagainya. Padahal, itulah yang bikin orang baperan. Itu mengapa Hélder Câmara memberi anjuran yang tampak bertentangan tadi: jangan pikul di atas pundakmu, bawalah dalam hatimu.

Bawa dalam hati bukan soal cinta-cintaan abege ya, ini soal memandang orang (tanpa sikap judgmental) sebagai manusia, yang tentu punya kelemahan, kalau bukan kerapuhan, sebagaimana si pemandang punya kerapuhan. Itu berarti, pun jika orang mesti menghakimi atau menilai orang lain, hendaklah ia melakukannya dalam rengkuhan hati Allah sendiri, yang menginginkan belas kasih lebih daripada kurban ritual agama. Allah senantiasa cinta ‘pandangan pertama’ terhadap manusia, ciptaan-Nya.

Orang beriman, semestinya juga menilai bersama Allah itu, dan karena sama-sama rapuh, ia pun bisa berdoa: Ya Tuhan (Yesus Kristus), kasihanilah kami (karena kami tak tahu apa yang kami lakukan). Amin.


HARI JUMAT BIASA XIII
7 Juli 2017

Kej 23,1-4.19;24,1-8.62-67
Mat 9,9-13

Jumat Biasa XIII C/2 2016: Hatimu Kok Keras, Nak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s