Dasar Ndeso…

Masih ingat kisah Abraham yang batal menyembelih anaknya? Tak perlu risau dengan siapa anak Abraham yang hendak disembelih itu (Ismael atau Ishak) karena poin utamanya terletak pada keutamaan Abraham yang disukai Allah: penyerahan total, ketaatan kepada Allah, takut akan Allah, dan sejenisnya. Agama A menyebut anak Ibrahim itu A. Agama B menyebut anak Abraham itu B. Apakah Ibrahim sama dengan Abraham? Jangan-jangan beda. Mboh! Itu gak lebih penting daripada kenyataan bahwa baik agama A maupun B menerima keutamaan yang diridai Allah itu. Ribut tentang siapa anak Abraham itu malah bisa jadi cuma petunjuk krisis dalam politik identitas dan fokus perhatiannya cuma pada ranah horisontal. Kalau perhatian orang cuma ada di ranah horisontal itu, apalagi kalau pasal hukumnya elastis seperti karet, berbagai tuduhan penistaan bisa dilontarkan pihak yang satu terhadap yang lainnya.

Tradisi tuduhan penistaan memang sudah berlangsung sejak lama. Konon, menurut salah seorang peneliti negeri ini, kasus penistaan biasanya bersifat subjektif tetapi mesti melibatkan tekanan massa. Artinya, sifatnya lebih politis daripada substantif. Celakanya, kalau orang tak bisa lagi membedakan antara substansi agama dan asesorisnya, politik identitas ini bisa jadi kekuatan yang mengerikan, kalau tidak bisa dibilang menggelikan atau menjijikkan karena sangat mungkin orang membela kepentingannya dengan tameng agama. Makin banyak, makin kuat dan benarlah penggunaan tameng itu, dan kita masuk dalam dunia post-truth. Intinya tak beda jauh dari dunia berhukum rimba.

Bacaan kedua hari ini nyangkut-nyangkut juga kasus penistaan agama. Ahli-ahli Taurat menuduh Yesus menghujat Allah karena ia berkata kepada orang lumpuh,”Percayalah, hai anakku, dosamu sudah diampuni.” Itu penistaan karena yang bisa mengampuni dosa cuma Allah! Akan tetapi, ahli-ahli Taurat itu lupa bahwa yang dibuat Yesus itu sebetulnya biasa saja. Nabi Natan yang menegur raja Daud itu pernah mengatakan bahwa Tuhan telah menjauhkan dosa Daud (setelah skandal penistaannya dengan Betsyeba) dan dia takkan mati. Cuma anaknya aja yang mati. Mengenai pengampunan dosa itu juga sudah disinggung Yesaya sejak awalnya. Sudah ada presedennya dan kenabian pribadi-pribadi itu tak diragukan lagi. Pengampunan dosa itu ilahi, tetapi bisa direalisasikan pribadi manusia yang diridai Allah dan dengan demikian menjadi manusiawi. Orangnya Allah tak pernah menista tetapi cap penista datang justru dari penista yang sesungguhnya.

Kalau begitu, tuduhan-tuduhan penistaan itu malah bisa jadi indikator kuat bahwa penuduhnya ignorant alias dungu bebal picik nan bodoh. Di hadapan orang seperti ini, tak ada dialog yang membuahkan hasil, wong pikiran sehatnya gak nyandhak alias tak sampai. Maka, sebetulnya bisa ditiru, tak usah banyak cing cong, langsung aja bungkus! Bungkusnya Yesus adalah dengan meminta orang lumpuh itu bangun dan berjalan. Bungkusnya orang beriman ialah bangun dan berjalan, bekerja dalam keyakinan seperti dikatakan Abraham: Allah yang akan menyediakan. 

Oh gitu ya. Trus, apa hubungannya dengan judul tulisan ini sih?
Belum juga nangkap hubungannya?

Dasar ndesoooo…..!


HARI KAMIS BIASA XIII A/1
6 Juli 2017

Kej 22,1-19
Mat 9,1-8

Kamis Biasa XIII C/2 2016: Minta Jemput Dong 
Kamis Biasa XIII B/1 2015: Iman yang Tuntas *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s