Limit-Experiences

Orang yang tertindas berseru dan Tuhan mendengar; Ia menyelamatkan dia dari deritanya. Siapa, terutama mereka yang malang dan tertindas, yang masih percaya pada syair begini? Siapa yang percaya pada kata-kata kosong di tengah perang yang tak kunjung usai, krisis ekonomi, krisis ekologi, radikalisme itu? Adalah yang masih percaya, yaitu mereka yang paham posting kemarin Save Our Souls dan posting Sakit Boleh, Menderita Jangan.

Bacaan-bacaan hari ini mungkin bisa dihubungkan dengan kata ‘usir’: Hagar diusir, setan diusir, Yesus pun diusir. Hagar diusir pergi dari keluarga Abraham. Setan diusir ke dalam babi seturut permintaannya sendiri. Yesus diusir dari dusun yang lebih butuh bisnis daripada golden waysnya Yesus. Bagi Yesus, ya tak jadi masalah; masih banyak lahan bisa dikunjunginya. Bagi setan, masuk dalam babi-babi itu berujung pada kematian sadis. Bagi Hagar? Lha ini yang saya mau lihat.

Pengalaman-batas seringkali jadi providential. Saya tak suka terjemahan Google Translate: bernasib mujur, yang ditakdirkan Tuhan, bernasib baik; dan saya takkan menerjemahkannya juga. Apa yang dialami Hagar boleh disebut sebagai pengalaman-batas, yaitu pengalaman ambang hidup/mati yang begitu intensif sehingga tampak ketidakmungkinan hidup lebih terasa. Orang sakit terminal (tidak selalu di terminal) dan kecelakaan fatal bisa jadi manifestasi pengalaman-batas itu. Kenapa disebut providential? Kita kenal istilah divine providence, penyelenggaraan ilahi. Tak perlu masuk ke asal kata bahasa Latin, bolehlah providential itu dimengerti sebagai keadaan terselenggaranya hidup. Dengan demikian, pengalaman-batas menjadi momen ketika hidup tetap terselenggara meskipun tampaknya mustahil. Pengalaman-batas ini memungkinkan orang menepis arogansi dan self-sufficiencynya.

Hagar, yang diusir bersama Ismael, kiranya masuk dalam pengalaman-batas itu. Saya tak yakin berapa umur Ismael, dan gak penting juga sih untuk memperdebatkannya, tetapi kiranya masih anak-anak, bahkan kalau umurnya 16 tahun. Di padang gurun. Kehabisan air. Entah seperti apa cuacanya. Pokoknya, dikatakan Hagar tak sampai hati melihat anaknya mati. Maka dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak. Ya tentu aja anak nangis sejadi-jadinya. Tuhan mendengar tangisan itu dan malaikat menegur Hagar.

Kalau saya malaikatnya, saya akan bilang kepada Hagar,”Hoeee, kalau kamu tak tahan melihat anak itu mati, ya kamu peganglah anakmu itu! Rawat dia supaya jangan mati. Kok malah kamu buang? Gimana sih? Ora dong aku! Itu kan malah bikin anakmu mati, dan kamu buat self-fulfilling prophecy.”
Tentu saya jelaskan juga padanya bahwa Allah akan menjadikan anak Hagar itu sebagai cikal bakal bangsa yang besar juga karena memang begitulah sifat Allah. Orang yang tertindas berseru dan Tuhan menyelamatkan dia dari deritanya. Kiranya Hagar juga berseru dan ia menderita sampai tak tahan melihat anaknya bakal mati. Allah membebaskan dia dari derita itu dan memampukannya untuk merealisasikan janji Allah itu.

Andaikan saja semakin banyak orang yang meninjau kembali limit-experiencesnya dan melihat pengalaman-pengalaman itu sebagai medan Allah mendidiknya….

Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk lebih merealisasikan janji keselamatan-Mu daripada menyatakan kekhawatiran dan ketakutan kami. Amin.


HARI RABU BIASA XIII A/1
5 Juli 2017

Kej 21,5.8-20
Mat 8,28-34

Rabu Biasa XIII B/1 2015: Kenapa Setan Memilih Babi?
Rabu Biasa XIII A/2 2014: Setan dalam Babi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s