Save Our Souls

Dulu pernah populer akronim SOS sebagai kependekan dari Save Our Ship atau Save Our Souls, meskipun sebetulnya itu ya cuma sandi morse yang disepakati sebagai kode distress signal. Maklumlah, katanya manusia itu homo interpres dan homo significans, bisaaaa aja nggathuk-nggathukkan alias mempraktikkan cocoklogi. Itu juga yang terjadi dalam agama; apa yang semula teknis kemudian ditempeli makna teologis. Contoh sederhana ya lilin yang secara teknis untuk menerangi teks yang hendak dibaca petugas. Lama-kelamaan dimaknai sebagai simbol terang Roh Kudus. Itu sih masih berterimalah. Ada cocoklogi dalam agama yang bisa bikin orang keblinger.

Saya mau pakai cocoklogi untuk SOS tadi. Kalau pilihannya Save Our Ship atau Save Our Souls, saya memilih Save Our Souls. Alasan saya sangat sederhana: karena ship secara ruang-waktu lebih rentan daripada souls. Ngapain ngotot dengan yang rentan ruang-waktu: hari ini ada, besok hilang, tahun ini di sini, tahun depan di sana, tahun depannya lagi mungkin sudah lenyap. Lebih berguna menyelamatkan souls yang bisa menghadapi aneka perubahan ruang-waktu itu dong. Itulah yang semestinya dimohonkan orang beriman: save our souls.

Lirik lagu ABBA berjudul SOS mungkin bisa membantu refleksi: So when you’re near me, darling can’t you hear me: S. O. S. The love you gave me, nothing else can save me: S. O. S. When you’re gone, how can I even try to go on? When you’re gone, though I try how can I carry on? Pasangan grup band itu akhirnya memang pisah, cerai, dan masing-masing melanjutkan hidupnya sendiri-sendiri, dan dengan demikian menjawab lirik lagu SOS sendiri: When you’re gone, I can go on. When you’re gone, I can carry on.

Apa yang membuat orang bisa go on itu? Dikatakan dalam lirik itu sendiri: the love you gave me, nothing else can save me. Cinta lagi cinta lagi. Akan tetapi, cinta yang menyelamatkan jiwa ini bukan lagi cinta yang diberikan sosok yang terbatas ruang-waktu, apapun, siapapun: ideologi, politik, agama, suami-istri, bapak-anak, dan sebagainya. Ini adalah cinta yang melandasi eksistensi aneka hal itu dan cinta inilah yang membebaskan orang dari kendali rasa takut. Cinta ini tidak menghilangkan rasa takut, tetapi tidak membiarkan orang dikontrol oleh rasa takut.

Silakan lihat video bagaimana kapten Abdul Rozag mendaratkan pesawat di sungai Bengawan Solo pada link ini. Baik pilot maupun penumpang mengerti bahwa mereka berhadapan dengan kematian, begitu dekat dan, saya yakin, mereka berdoa memohon keselamatan. Yang menarik saya, doa pilotnya berbunyi: Please forgive us our sins and let us have a strength to save our passengers. Apakah pilot itu punya rasa takut? Saya yakin, punya, tapi ngapain pelihara rasa takut? Faith goes beyond that fear dan justru karena itulah pilot mampu berbuat sesuatu, karena tidak terpaku pada rasa takut akan kematian, tak jumpa teman, berpisah dari keluarga, derita sakit, dan sebagainya. Itulah save our souls; bukan karena takut kehilangan nyawa, melainkan supaya jiwanya berdaya untuk berbuat sesuatu demi orang lain.

Ya Allah, selamatkanlah jiwa kami. Amin.


HARI SELASA BIASA XIII A/1
4 Juli 2017

Kej 19,15-29
Mat 8,23-27

Selasa Biasa XIII C/2 2016: Tuan Anjing
Selasa Biasa XIII B/1 2015: Njawil Kristus *
Selasa Biasa XIII A/2 2014: Dormant God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s