Pansus Koruptor

Entahlah, apakah seorang bapak lebih suka anak sulung dan sang ibu membela anak bungsu, tetapi cerita yang disodorkan hari ini mengisahkan konflik semacam itu. Ishak, yang sudah semakin tua dan daya-daya inderawinya menurun, hendak memberikan berkat untuk penerusnya sebagai pemimpin klan. Seturut kebiasaannya, itu hak anak sulung, yaitu Esau. Akan tetapi, berkat kepiawaian sang ibu, Ribka, untuk tidak mengatakan kelicikan atau kecurangannya, Yakublah yang memperoleh berkat untuk transisi itu. Saya belum menemukan apa kepentingan Ribka merekayasa perebutan hak sulung Esau. Waktu kuliah dulu saya sedang ikut rapat demo membubarkan DPR… #ehDPRpaPresidensih.

Apakah Allah menghendaki kecurangan, kebohongan, korupsi, tipu muslihat? Saya yakin tidak. Makin absurd saja Allah kalau Dia menghendaki kultur korup manusia. Kalau dihubungan dengan bacaan kedua mengenai kantong anggur lama versus kantong anggur baru, kiranya bisa dilihat bagaimana kebaruan itu ada pada Allah. Konflik antarsuku, konflik keluarga, perseteruan bisnis, bahkan yang ujung-ujungnya adalah manifestasi kultur kematian, itu tergolong kantong lama. Hak sulung, tradisi warisan, kultur perusahaan, tata negara, dan sejenisnya itu, siapa sih yang bikin? Ya orang! Lha, kalo yang bikin itu orang, tentu saja kepentingan orang masuk. Kepentingan Allah? Belum tentu.

Lha gimana tahunya kepentingan Allah ya? Ya mesti terus menerus cari apakah kepentingan orang tadi memang universal menyangkut semua orang, atau cuma orang per orang atau kelompok tertentu. Kalau cuma kelompok tertentu, sulit mengategorikannya sebagai kepentingan Allah. Semakin universal, semakin ilahi, gitu aja prinsipnya. Lha kalo’ praktik korupsi, kekerasan, kebohongan, tipu daya itu makin banyak, berarti makin ilahi dong ya? Itu pertanyaan sesat karena mencampuradukkan antara yang deskriptif dan normatif, antara yang de facto dan de iure. Organisasi Transparansi membuat indeks korupsi dengan memberi skor tertinggi pada negara yang bebas korupsi. Artinya, itulah surga yang sebetulnya diinginkan orang, meskipun masih lebih banyak orang belum sampai sana.

Kantong baru itu adalah kultur de iure Allah: belas kasih bagi semua. Kisah lanjutan perebutan hak sulung Esau bisa ditebak: Esau pasti akan marah dan lebih dari itu, ia menyimpan dendam, bahkan niat membunuh Yakub. Ribka tak ingin bencana tiba tentu saja: Ishak mati tua dan dua anaknya saling bunuh. Maka, dia atur rencana supaya Yakub tidak hidup dalam ancaman pembunuhan Esau: kabur! Kaburlah Yakub dan jangan kembali lagi ya nanti di sini dipenjara loh kamu!

Sejarah kemanusiaan tidak dilanggengkan oleh kultur kematian (kejahatan: tipu daya, korupsi, perang), melainkan oleh kultur kehidupan yang dipromosikan terus menerus oleh Roh Allah sendiri. Persis di situlah tantangan beratnya: mengadopsi kultur kehidupan, mengambil kantong baru, menolak apa saja yang taken for granted yang tak klop lagi dengan kultur kehidupan itu. Ini memang susah, benar-benar susah, serius! Alih-alih bikin pansus KPK untuk memperkuat KPK, yang terjadi malah pansus koruptor, untuk memperkuat koruptor (lha yang ditemui koruptor)!

Pada kenyataannya, orang lebih gampang memupuk niat pembalasan, ambisi pribadi atas ketidakadilan manusiawi daripada menggumuli pencarian: apa yang dikehendaki Allah bagiku untuk diperbuat?

Ya Allah, buatlah hati kami selalu jadi kantong baru bagi anggur, sabda-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XIII A/1
8 Juli 2017

Kej 27,1-5.15-29
Mat 9,14-17

Sabtu Biasa XIII C/2 2016: Puasa Pesta atau Pesta Puasa?
Sabtu Biasa XIII B/1 2015: Ngapain Puasa Segala?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s