Tak Melawan Tuhan, Tapi…

Kepo memang berguna, tetapi menahan rasa kepo barangkali menaikkan mutu. Para murid Yesus ya sama aja dengan orang-orang kebanyakan: sama-sama lelet untuk memahami. Hanya saja, mereka punya privilese sebagai murid untuk berkonsultasi dengan guru mereka tanpa kehilangan harga diri, tak perlu takut dicap o’on atau o’ot atau bodoh atau goblok [heran, kenapa vokalnya semua ‘o’ ya?].

Omong-omong soal privilese, saya itu jadi ngeh kemarin bahwa privilese orang seperti saya ini bikin hidup jadi enteeeeng banget. Saya bisa bayangkan bagaimana orang kesusahan yang tak punya privilese seperti saya itu akan menapaki tragedi demi tragedi di hadapan mental legalistik yang didominasi oleh paradigma menang-kalah. Di hadapan mental seperti itu, orang berprivilese seperti saya akan ditempatkan sebagai pemenang (bahkan meskipun saya tak berniat mengalahkan pihak lain). Apakah itu bikin nyaman? Tentu saja, bagi mereka yang punya mentalitas dan paradigma seperti tadi. Bagi yang mentalitasnya lebih menentramkan hati orang, privilese bikin nyaman sejauh digunakan untuk membantu kelompok orang yang tak punya privilese.

Itu terasa betul ketika saya mengikuti seluruh prosedur untuk mendapatkan sepucuk surat sakti sebagaimana orang kebanyakan melakukannya. Ini sungguh menyita terutama waktu. Ya itu yang lebih jadi concern saya daripada kesusahan fisik karena sinar terik matahari di atas jok motor yang mondar-mandir dari kantor satu ke kantor yang lainnya. Baru pada saat saya memandang tiba batasnya alias kepepet, saya masuk ke ranah privilese tadi dan memang betul, prosesnya jadi lebih lancar. Saya bayangkan bagaimana orang yang jatuh tertimpa tangga masih pula diinjak-injak orang lain yang hidupnya cuma berasal dari prosedur legal. Orang seperti ini, yang tak bisa memperjuangkan dirinya sendiri, tentu bukan cuma satu dua.

Apa ya nyaman sih mendapat privilese di atas penderitaan orang lain? Nyaman-nyaman gimanaaaa gitu, seperti malah ada nuansa jahatnya. Betul sih memang kejahatan itu bukan teori belaka, sungguh terjadi; dan kerap kali itu jadi kambing hitam akan adanya aspek negatif kenyataan hidup. Tak hanya begitu, penyakit psikis atau saraf bisa jadi dilabeli juga sebagai kambing hitam atas hal-hal yang tak bisa dijelaskan. Pendekatan Kitab Suci tidak seperti itu, tetapi sederhana saja: memang ada bagian gelap dari kenyataan yang juga merupakan ciptaan, yang tidak melawan Tuhan, tetapi bekerja sedemikian rupa untuk melemahkan greget orang terhadap kebaikan. Artinya, dia bukannya menentang Tuhan, melainkan menggembosi orang beriman, melemahkan daya juangnya untuk menguasai diri dan menjumpai Allah.

Menariknya, dalam bacaan hari ini kekuatan jahat itu disebut sebagai ‘musuh’, yang mesti berkaitan dengan paradigma menang-kalah tadi. Musuh bisa menang, bisa kalah. Kalau sampai sini, tinggal lihat kriteria menang kalahnya saja: kemenangan hanya berarti sejauh orang mengalami kedekatan dengan Allah yang bersemayam dalam batinnya juga. Begitulah hari kemenangan, bukan soal nanti entah kapan, melainkan saat orang connect dengan Pribadi yang memanggilnya juga dalam hidup konkret, di sini dan sekarang ini.

Ya Allah, semoga kami peka terhadap daya-daya yang bisa melemahkan kesetiaan kami pada-Mu. Amin.


HARI SELASA BIASA XVII A/1
Peringatan Wajib S. Alfonsus Maria de Liguori
1 Agustus 2017

Kel 33,7-11;34,5-9.28
Mat 13,36-43

Selasa Biasa XVII B/1 2015: Siapa Bikin Agama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s