Agama Serendipity

Pada salah kesempatan untuk berlebaran dan tilik saudara yang kesripahan (bahasa Jawa, tolong dicari sendiri artinya ya), saya mendapati kesan bagaimana rupanya orang menerima agama bukan sebagai pilihan jalan hidup, melainkan beban kewajiban yang seakan-akan ditempatkan di atas segala-galanya. Paling kentara kalau sudah masuk dalam urusan kawin campur (ya opo rek kawin ora campur). Yang keluarga anu ngotot supaya ritualnya dilakukan di KUA, yang keluarga lain ngotot supaya di gereja, yang lainnya mati-matian supaya calon menantunya dibaptis dulu, yang lain lagi memaksa calonnya mengucapkan syahadat dan seterusnya. Agama jadi batu srimpêtan lebih daripada batu penjuru.

Loh Romo ini bagaimana toh pemuka agama kok malah kesannya tidak menganggap agama itu penting. Buat apa Romo kuliah delapan tahun tambah empat tahun tambah berapa tahun lagi kok malah menilai agama jadi batu sandungan?
Saya bukannya menganggap agama tidak penting, tetapi kepentingan agama itu tak boleh diletakkan di atas hal yang hendak disodorkan agama sendiri: cinta ilahi yang hendak hadir dalam cinta manusiawi.
Lah, trus apa berarti suka-suka orang yang saling cinta itu mau memperlakukan agama bagaimana?
Ya saya juga tidak hendak mengatakan begitu, tetapi mari kita kembali ke fungsi agama yang sejati itu apa.

Kalau agama cuma jadi pelarian atau pemaksaan atau formalitas dan sejenisnya, ujung-ujungnya ya agama itu cuma jadi beban. Betul penting, tetapi kepentingannya cuma di lapisan dangkal: yang penting ritualnya agama tetot, yang penting suami istri agamanya sama-sama tetot, yang penting anak saya tidak murtad jadi beragama tetot, dan seterusnya.

Barangkali teks bacaan hari ini bisa dimaknai dengan bantuan kata serendipity atau trajectory. Artinya tolong dicari sendiri ya, tetapi yang mau saya sampaikan ialah bahwa agama semestinya dikembalikan pada fungsinya untuk membangun relasi autentik dengan Yang Ilahi, bukan fungsi kompetitif horisontal. Kalau toh tetap mesti mengotakkannya pada fungsi kompetitif, tentu kompetitif untuk pembangunan relasi autentik tadi: suatu Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah berarti memang Kerajaan Allah, Dia yang meraja, bukan manusia, bukan pula agama. Pada saat manusia terbuka pada kenyataan itu, ia justru akan menghidupi agama dalam fungsinya yang jauh lebih luas daripada yang bisa dibayangkannya. Yang semula dimengerti sebagai kumpulan dalil atau hukum belaka lalu jadi pedoman untuk memperoleh kesegaran hidup rohani. Yang semula cuma dipahami sebagai kumpulan ritual kemudian jadi simbol pencarian bersama akan Yang Mutlak. Yang semula sibuk soal seragam kemudian malah menghargai keragaman. Yang semula cuma jadi status sosial kemudian jadi wujud solidaritas sosial untuk membangun kemanusiaan. Begitu seterusnya, ada hal-hal yang kemudian tergali dari agama, yang semula tak terpikir atau terbayangkan. Itulah serendipity, begitulah kiranya trajectory.

Tapi ya itu tadi, terjadinya justru ketika orang membiarkan Allah menjadi Tuhan, membiarkan Dia memberikan hidayahnya tanpa intervensi penuh paksaan dari pihak manusia. Orang beragama yang sok, seolah-olah dirinya orang pilihan Allah yang tak perlu lagi belajar menggali makna hidup, justru mengerdilkan dirinya sendiri. 

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan hati supaya kami dapat mengalami kebebasan sebagai putra-putri-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XI B/2
17 Juni 2018

Yeh 17,22-24
2Kor 5,6-10
Mrk 4,26-34

Posting Tahun 2015: Berminat Jadi Polisi Gereja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s