Show me your God

Saya curiga banyak orang Kristen, entah Katolik atau Protestan, yang tidak sungguh-sungguh mengerti mengapa mereka jadi Kristen atau tetap jadi Kristen selain karena ‘sudah telanjur’ atau karena ‘keluarga dan orang-orang dekatnya semua Kristen’ atau karena merasa harus begitu. Andaikan di negeri ini ateisme dinyatakan sebagai agama legal, barangkali banyak orang Kristen yang akan hijrah ke agama ateisme itu. Lha iyalah, daripada repot dengan tetek bengek dari urusan ritual sampai perkawinan dan berujung tengkar dengan agama lain, mending hidup sukak-sukak gue dong.

Tapi ya itu tadi, cuma kecurigaan saya. Benar tidaknya bergantung pada orang Kristennya sendiri (atau agama lain yang juga sebetulnya punya problem yang sama). Saya cuma mau memberi catatan soal identitas kekristenan atau keislaman atau kebuddhisan dan seterusnya. Masing-masing orang mesti menangkap seturut keyakinan agamanya sendiri. Dulu pernah saya singgung soal ketertarikan Mahatma Gandhi pada Yesus tetapi kehilangan nafsu setelah melihat kenyataan orang Kristen yang menjajah bangsanya. Itu petunjuk kuat bahwa orang-orang Kristen di sekeliling Gandhi saat itu gagal menunjukkan identitas sejati kekristenan. 

Orang Kristen dipanggil untuk jadi gambaran Kristus di dunia, bagi orang-orang lain, apapun agamanya. Sekali lagi, bukan untuk membuat orang lain beragama Kristen. Penjelasannya begini. Sebagaimana Allah, begitu pula Kristus, tak kelihatan, dan dengan demikian, orang Kristen mestinya jadi Kristus yang kelihatan. Kalau tidak begitu, gimana orang Kristen bisa mengklaim bahwa tugasnya membuat semua orang percaya kepada-Nya?
Loh, kan Romo sendiri bilang soal itu bergantung pada hidayah-Nya sendiri?
Hahaha, ya betul. Hidayah memang datang dari Allah, dari Kristus sendiri, tetapi manusia punya peran untuk membuat necessary conditions yang memungkinkan hidayah itu terealisasi dalam hidup konkret.

Kalau orang Kristen tak jadi Kristus yang kelihatan tadi, hidayah itu jadi absurd dan tinggal tunggu kiamat saja setelah manusia hidup seturut maunya sendiri. Ini jadi hidup yang kekurangan elemen esensial: sifat kelihatan dari iman seseorang. Iman tidak hanya muncul dari pendengaran, tetapi juga dari penglihatan, bahkan seluruh indra manusia. Jadi, bagaimana orang beriman bisa memperlihatkan iman itu? Lewat ritual, tanda salib, berlutut-bersujud, puasa, roman collar, baju daster, celana cingkrang? Bayangkanlah para pemuka agama tampil di panggung dengan baju khusus mereka. Apakah yang mereka pertontonkan? Agama!

Iman tidak dipertontonkan dengan gerak ritual, tidak pula asesoris lainnya. Hambok Anda bersujud sehari 100 kali atau mendoakan rosario 50 kali sehari dan sejenisnya, itu cuma mau mengatakan bahwa Anda punya kebiasaan ritual agama tetot dan tidak mengatakan apa-apa tentang iman Anda. Iman Anda terlihat dari pilihan dan tindakan mulia yang entah terhubung dengan ritual Anda atau tidak. Kalau terhubung, itu artinya Anda punya kerohanian yang baik. Kalau tidak, bisa jadi Anda adalah orang munafik yang baik; maksudnya kemunafikan Anda cool alias awesome, omong rohani joss, bertindak laksana boss, nasihatnya mak nyuss, gelagatnya nggêdêbus sehingga kalau sudah sampai pada yang konkret jadi mak plêkênyik. 

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat memperlihatkan keilahian-Mu dalam pilihan dan tindakan konkret. Amin.


SENIN BIASA XI B/2
18 Juni 2018

1Raj 21,1b-16
Mat 5,38-42

Senin Biasa XI A/1 2017: Tatap Mata Saya
Senin Biasa XI C/2 2016: Dah Salah Ngotot Lagi
Senin Biasa XI B/1 2015: Otak di Balik Hukum

Senin Biasa XI A/2 2014: Agama Modus, Masyarakat Cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s