Ampunilah Cinta

Love is the most beautiful, most precious thing that exists. Ia hadir dalam segala manifestasi saat orang bisa menyatakan ‘sayang’ atau ‘cinta’ satu kepada yang lainnya entah secara implisit dalam tindakan atau secara eksplisit dalam kata-kata. Cinta yang tulus justru ada dalam pernyataan implisit tadi. Itu mengapa orang salah paham: terlalu terpesona pada kata-kata, yang bisa jadi manipulatif alias kosong. Terlalu banyak kasusnya, tetapi tak saya bahas di sini. Saya cuma mengamini bahwa cinta itu hal terindah, sedemikian palingnya sehingga yang lain-lain hanya bisa ada jika dilihat dari perspektif cinta, entah itu atom, kacang atom, bahkan bom atom.

Weh, bom atom kok dilihat dari perspektif cinta?
Sama saja, kacang atom kok dilihat dari perspektif cinta tuh gimana jal?
Prinsip keduanya sama: tarik menarik atau tolak menolak seperti pada atom. Coba kalau semua menolak bom atom, pasti gak tercipta bom atom, bukan? Begitu pula kacang atom. Kalau tepung tapiokanya ambyar tak mau menempel dan melapisi kacang, namanya bukan kacang atom.

Berita baiknya, kekuatan tarik menarik masih lebih dominan daripada tolak menolak, karena keseimbangan proton dan elektron dalam atom. Andaikan saja semesta ini kelebihan proton, terjadilah kiamat. Layar gawai atau monitor komputer Anda akan terurai ambyar atau barangkali malah mata Anda duluan yang ambyar. Entahlah, semuanya jadi amburadul dan semesta tak berbentuk seperti sekarang ini. Kiamat. Jadi, dalam bahasa kimia, kiamat ialah kelebihan proton secara masif #lohkokjadikimia.

Nah, dalam atom tadi sebetulnya ada ‘makhluk’ lain yang tinggal bersama proton, tetapi sifatnya netral. Namanya neutron. Saya tak tahu kalau neutron ini dicabut dari inti atom jadinya gimana. Teorinya sih atom itu akan jadi isotop dan itu mengingatkan saya pada kata setop alias tak usah dilanjutkan pelajaran kimianya. Marilah kembali ke cinta sebagai hal terindah tadi. Andaikanlah cinta positif dan benci negatif, cinta dikelilingi benci seperti elektron berputar-putar mengelilingi inti atom. Mengapa benci tak bisa menghancurkan cinta? Rupanya karena cinta itu punya manifestasi terindah juga yang bernama pengampunan.  Ini yang dari tadi saya mau bilang pake’ mlipir ke pelajaran kimia segala: forgiveness is the most magnanimous face of love. Kalau pengampunan dicabut dari cinta, benci dengan mudah membuyarkan cinta Anda.

Pengampunan sama sekali berbeda dari toleransi. Toleransi kenal batas, pengampunan tidak. Begitu pengampunan kenal batas, keadaannya akan seperti kelebihan proton tadi: ambyar semua. Mengampuni berarti masuk dalam suatu relasi baru, yang bisa jadi malah lebih agung daripada relasi sebelum panah cinta itu sempat mak jleb menimbulkan luka.
Wooo berarti Romo membiarkan orang diinjak-injak orang lain dengan mengampuni ya? Tetot, salah besar. Dalilnya justru berbunyi: you’ll never have a chance to hurt me again since I’ve forgiven you.
Nah, berarti Romo setuju perceraian dong? Hahaha, tetot besar, salah lagi. 
Memang susah memahami cinta dengan manifestasi terindahnya pengampunan, maka dari itu, ampunilah cinta.

Tuhan, mohon bimbingan Roh Kudus-Mu untuk dari hari ke hari memahami misteri cinta dan pengampunan-Mu. Amin.


SELASA BIASA XI B/2
19 Juni 2018

1Raj 21,17-29
Mat 5,43-48

Selasa Biasa XI A/1 2017: Love Knows No Limit
Selasa Biasa XI C/2 2016: Perluas Batas Sesama
Selasa Biasa XI B/1 2015: You’ll Never be Perfect!

Selasa Biasa XI A/2 2014: Doakanlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s