Yang Esensial

Tahukah Anda perbedaan antara esen dan esens? Iya betul. Masih ingat kabar baik mengenai ekstrak manggis, kan? Ekstrak manggis itu contoh esens, sedangkan esen ialah burung kakaktua putih [lah, malah baru tahu saya, kira’in bedanya tadi cuma terletak pada huruf ‘s’]. Apa jadinya jika burung kakaktua putih itu sukar mendapat jodoh atau rezeki? Jadilah esen sial.

Guru dari Nazareth dalam teks bacaan hari ini mengundang orang beriman untuk masuk ke dalam ranah esensial. Mohon tidak disalahpahami lagi ya: esensial berbeda dari esensialisme. Guru dari Nazareth itu tidak mengajak orang beriman untuk berpegang teguh pada esensialisme, tetapi mengundang orang untuk memperhatikan yang sifatnya esensial, mendasar, atau hakiki. Loh memang esensialisme itu apa toh, Mo? Silakan tanya pada dosen filsafat ya. Di sini cukup dimengerti bahwa undangan pada yang esensial tidak semerta-merta merupakan ajakan pada esensialisme; sebagaimana rekomendasi terhadap yang fundamental dan radikal tidak identik dengan dorongan terhadap fundamentalisme dan radikalisme. Itu dua hal yang berbeda.

Yesus mengundang umat beriman untuk masuk pada yang esensial, yang autentik, yang benar dari yang kita lakukan atau katakan, bukan gombal amoh atau kata-kata kosong ala Saya Sasaki Shiraishi. Derma atau sedekah itu positif karena di situ ada perhatian kepada orang lain yang sungguh membutuhkan bantuan, tetapi kalau cuma jadi kompulsi otomatis wajib atau bentuk superioritas atau penebalan ego, jadinya meaninglessPuasa sama saja. Itu bisa jadi manifestasi perhatian pada pentingnya jiwa terhadap pengelolaan tubuh, askese, disiplin hidup rohani, tetapi juga bisa jadi cara untuk show off, menunjukkan kesalehan narsistik yang tentu saja berkebalikan dengan tujuan puasa sendiri. Doa tak luput dari bahaya yang sama: yang semestinya merupakan perjumpaan intim dan personal dengan Tuhan, termasuk ibadat yang merupakan perayaan syukur kolektif atas perjumpaan itu, bisa jadi terpapar virus bisnis untung rugi atau ekshibisi juga.

Dalam konteks itulah saya punya catatan terhadap bentuk doa bersama (misalnya para tokoh atau pemuka agama) yang pada umumnya tak menimbulkan selera bagi saya.
Weh weh weh, jadi Romo ini tidak mendukung kerukunan antaragama ya? Justru saya mendukungnya, tetapi saya lebih concern pada yang esensial: doa adalah manifestasi intimitas manusia dengan Allahnya.
Lha memangnya doa lintasagama itu gak bisa membuat orang connect dengan Allahnya?
Pemuka agamanya mungkin bisa, tetapi para pembelakangnya menanggung bahaya melihat kegiatan itu dalam frame politik. Itu mengapa saya saya tidak endorse doa lintas-lintasan. Kalau memang mau memaparkan imaji kerukunan, ya lakukan saja aktivitas lainnya; kan mesti ada 1001 alternatif kegiatan. Tapi ini kan pilihan pribadi saya ya, bukan pandangan resmi agama tertentu. Yang penting, semoga setiap orang beriman mau melihat yang esensial dalam aneka manifestasi imannya.

Tuhan, mohon keterbukaan hati supaya Engkaulah yang senantiasa meraja. Amin.


RABU BIASA XI B/2
20 Juni 2018

2Raj 2,1.6-14
Mat 6,1-6.16-18

Rabu Biasa XI A/1 2017: Menjual Diri
Rabu Biasa XI C/2 2016: Ekshibisionisme Agama
Rabu Biasa XI B/1 2015: Puasa Oh Puasa
Rabu Biasa XI A/2 2014: Vanity, Target Orang Muna’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s