Bukan SMA Gonzaga

Ini cerita mengenai seorang yang mati muda. Sumbernya ada di sini. Namanya Luigi [bacanya luiji saja ya] Gonzaga. Sekolahannya di Pejaten Barat 10, Jakarta. Maksud saya, sekolah itu memakai nama anak muda ini. Tentu bukan cuma sekolahan di Pejaten Barat itu yang memakai namanya. Di Eropa, Afrika dan Amerika juga ada institusi pendidikan yang memakai nama Gonzaga. Maklumlah, dia memang anggota geng internasional yang didirikan lebih dari empat abad yang lalu. Kalau Gonzaga ini hidup sampai sekarang, berarti usianya 450 tahun. Apa mau dikata, ia meninggal pada usia 23 tahun.

Kenapa bisa meninggal pada usia 23 tahun itu? Ia tertimpa benih malaria yang membuatnya demam setiap tiga hari ketika masih berusia tujuh tahun (quartan ague itu maksudnya begitu kan, Dok? Atau gimana?). Ia sempat mesti beristirahat total karena malaria itu. Menariknya, penulis cerita ini melukiskan secara indah begini: Along with the germ that made him ill, God planted another seed that would germinate in time. At this age, he revealed to his mother, Marta, his desire to devote his life to God. Maksudnya, bersama benih penyakit itu, Allah membenamkan benih lain yang dalam masa inkubasinya mendorong Gonzaga untuk membaktikan hidupnya kepada Allah. 

Pada zaman now takkan terbayangkan seorang anak usia tujuh tahun mengutarakan niat untuk membaktikan hidup bagi Tuhan. Paling-paling menyelatankan cita-cita jadi pastor, suster, biarawan atau biarawati; tetapi ‘membaktikan hidup bagi Tuhan’ bukanlah frase yang umum dalam kultur modern. Pada masa Gonzaga hidup, itu sudah lumrah, tetapi karena Gonzaga adalah putra sulung dari keluarga bangsawan terpandang, niatnya jelas ditentang terutama oleh ayahnya. Singkat cerita, pada umur sweet seventeen Luigi bergabung dengan geng internasional tadi. 

Ia hanya bertahan enam tahun dalam geng tersebut karena ia tertular wabah pes (apakah ini semacam leptospirosis yang mematikan, Dok?) dalam aktivitasnya membantu penderita pes. Secara tak langsung, Luigi Gonzaga mengatakan dengan hidupnya selama jadi anggota geng internasional itu bahwa orang tak boleh takut wabah yang menghisap dunia dan keberanian ini lebih mulia daripada segala kekayaan yang bisa dimiliki. Tentu yang mulia bukan keberaniannya per se, melainkan keberanian sebagai simbol harta karun hidup sejati; orang berani mengambil langkah yang tidak mainstream, melawan arus, dan sejenisnya, demi kepentingan sesama. Hal yang biasanya disodorkan acara Kick Andy, misalnya.

Begitulah karakter doa Bapa Kami: kemuliaan Allah terwujud dalam kolektivitas, yaitu kebermaknaan hidup yang ditemukan persis ketika orang mengorientasikan hidupnya pada ‘yang lain’. Kesempurnaan hidup itu adalah rahmat Tuhan yang tampak dalam pergumulan orang untuk menemukan kehendak Tuhan dalam hidupnya yang berujung pada kemanusiaan universal. Ideologis? Bisa jadi, kalau orang mendoakannya hanya pada mulut, bukan pada hati dan tindakan konkret.

Maka, bukan SMA Gonzaga namanya kalau tidak mengundang orang untuk jadi (wo)men for (& with) others dan malah jadi manusia tribal.
Tuhan, mohon keberanian untuk membaktikan hidup kami pada-Mu dalam cinta kepada bangsa ini dan kepada kemanusiaan.  Amin.


KAMIS BIASA XI C/2
Peringatan Wajib St. Aloysius Gonzaga (SJ)
21 Juni 2018

Sir 48,1-14
Mat 6,7-15

Kamis Biasa XI A/1 2017: Akhlak Mulia
Kamis Biasa XI C/2 2016: Nabi… Bir Lu
Kamis Biasa XI B/1 2015: Ayo Petisi Tuhan

Kamis Biasa XI A/2 2014: Jakarta-Indonesia PP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s