Tipikors

Kata tetangga saya, mata adalah hati terluar sebagaimana kata-kata adalah suara hati yang bisa didengar dari seseorang. Artinya, kalau hatinya murni, matanya juga murni dan sebaliknya, kalau hatinya gak murni, matanya juga gak murni, mungkin semacam campuran gundu dengan agar-agar #eh. Ini bisa jadi pembenaran bagi Anda yang gemar membiarkan aurat Anda jadi trigger bagi pikiran kotor orang lain: dasar pikirannya aja yang kotor, lihat orang tutupan dari ujung rambut sampai ujung kaki pun pikirannya tetap kotor. Haiya betul, tetapi itu contoh ekstrem, sebagaimana kaum nudis tak berpikiran kotor (tapi siapa juga yang tahu pikiran mereka sesungguhnya ya?) meskipun melihat aurat dari ujung kaki sampai ujung kepala. Saya ingin melihat persoalannya secara wajar saja, tanpa tutup mata bahwa memang ada orang-orang yang ekstrem.

Kiranya Anda masih ingat cerita Daud berjalan-jalan di atas sotoh istana dan mak jegagig matanya melihat Batsyeba yang sedang mandi. Apakah hati Daud ini kotor karena melihat perempuan mandi? Tentu tidak. Itu biologis dan instingtif, tetapi bahkan kalau Daud terangsang karena penglihatan itu pun tidak bisa dikatakan hatinya kotor. Sekali lagi, itu biologis. Akan tetapi, sejak Daud kepo menyuruh orang mencari tahu sosok Batsyeba dan berniat memperistrinya, di situlah hatinya mulai kotor. Jadi, kekotoran tak terletak pada objek yang dilihat mata (misalnya orang mandi, gambar atau video, anjing kawin), melainkan fiksasi hati pada objek (perhatiannya cuma pada objek) yang mengakibatkan matanya melotot terus ke situ tak berkedip sampai kejatuhan panci.

Kalau gitu, benar bukan bahwa permasalahannya ada pada hati dan pikiran orang dan bukan objeknya sendiri? Betul, hati-pikiran orang yang menonton dan hati-pikiran orang yang ditonton (termasuk perpanjangan hati-pikirannya alias tutur kata, perbuatan, hasil prakarya, cara membawakan dirinya, dan sebagainya), eaaaaa…. Contoh, motif seniman yang melukis orang telanjang atau fotografer yang memotret spot-spot sensual atau wartawan yang memilih berita syur dan sebagainya, itu juga perlu dicermati selain hati-pikiran penikmatnya sendiri. Dengan demikian, akan kelihatan apakah yang hatinya kotor itu pembuat film atau penontonnya juga, pikiran fotografer atau pikiran pemuka agamanya juga, dan seterusnya. Bisa jadi, sebetulnya yang hatinya kotor justru pemuka agama atau pelembaga sensor, dan seterusnya.

Anyway, kalau hati orang terarah pada yang bersih, bahkan objek kotor pun tak berhasil menjalankan fungsinya sebagai trigger bagi pikiran kotor. Kalau hati orang kotor, tak heran muncul tipikors: hati pikiran kotor dan tindak pidana korupsi. Tahun lalu saya bagikan ceritanya pada posting Tatap Mata Saya. Allah pun bersedia membuat kesepakatan dengan Daud untuk mengutus Roh yang dapat mengubah hati batu jadi hati ayam #ehsudahlaparpadahalbarusajamakan. Kesepakatan Allah itu tak lagi dipatri dalam loh batu atau lembaran kertas aturan hukum, tetapi dalam hati orang sendiri yang membuat mata dan indra lainnya selektif, lebih memilih hal yang membuatnya lebih outward looking daripada terfiksasi pada kesenangannya sendiri.

Tuhan, mohon rahmat kejernihan hati dan budi supaya cinta-Mu lebih terkuak daripada cinta diri kami. Amin.


JUMAT BIASA XI B/2
22 Juni 2018

Raj 11,1-4.9-18.20
Mat 6,19-23

Jumat Biasa XI C/2 2016: Kedip-kedip atau Melotot?
Jumat Biasa XI B/1 2015: Minions Hilang Arah

Jumat Biasa XI A/2 2014: Memelihara Berhala

5 replies

    • Tengkyu mas mbegitulah sudi mampir… Mbok saya diberi pencerahan gimana kira2 islamic sufism itu melihat wacana ini… Dalam KBBI ‘loh’ itu didefinisikan sebagai batu bertulis. Konon Nabi Musa menerima ringkasan hukum Taurat dalam dua loh batu…

      Like

  1. Akan sangat panjang si mas, hehe, moga kapan2 bisa kita bahas. Kalau artinya loh itu batu tertulis maka mirip dengan istilah dalam quran, yaitu lauh, artinya sama, atau papan atau lempengan yang ditulisi. Tapi istilah lauh yang populer dalam islam digunakan untuk menyebut papan tempat menulis takdir manusia, istilahnya lauh mahfudz atau papan/lempengan yang terjga.

    Like

    • Wah kalau sangat panjang, yang baca mungkin lelah sblm selesai, hehe… tengkyu info lauh mahfudznya; rumpun bahasa semitik mestinya memang memuat banyak kemiripan karena akar-akar kata yang mirip begitu ya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s