Hore Dapat SP3

Saya belum pernah mengeluarkan SP3 untuk karyawan saya. Paling banter hanya SP2. Kalau sampai SP3 saya keluarkan, tentu masalah buat saya dan dia yang saya beri SP3. Tak ada masalah buat bangsa Indonesia. Ini cuma urusan dapur karyawan dan tata kelola perusahaan saya [wuih…perusahaan apa jal?].

Akan tetapi, ada SP3 yang rupanya menguntungkan kepentingan politik kekuasaan dan di situlah saya semakin gimana gitu terhadap politik. Di situ orang tak bisa mengatakan ‘ya’ jika ‘ya’ dan ‘tidak’ jika ‘tidak’. Memang kenyataan hidup ini juga tidak bisa dinilai hitam-putih ya-tidak, tetapi karena tak ada yang mutlak di dunia ini (kecuali yang mutlak, dan itu susahnya: menentukan mana yang mutlak dan relatif), bisa juga dikatakan bahwa tidak semua kenyataan hidup pantas diberi dispensasi dari pengotakan hitam-putih. Kalau orang tak bisa lagi mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ terhadap kenyataan hidup yang memang ‘ya’ atau ‘tidak’ itu, jangan-jangan ada masalah besar dalam revolusi mental.

Betul juga sih bahwa dalam politik tak ada lawan tetap dan yang ada kepentingan tetap: kekuasaan. Akan tetapi, pernyataan itu hanya mau menunjukkan bahwa kekuasaan jadi tendensi umum yang bisa mencoreng kemanusiaan sendiri. Kebenaran tak lagi bisa dilihat sebagai kebenaran per se karena mesti diletakkan dalam kaitannya dengan aneka banyak faktor dan mungkin itulah yang kemudian memaksa orang yang berkecimpung dalam ranah kekuasaan untuk mengupayakan suatu political correctness. Secara pribadi saya tak begitu happy dengan SP3 yang diterima si anu tetapi kalau ditempatkan dalam psikologi kekuasaan memang tampaknya itu jadi jalan keluar yang minus malum (kurang jelek dari antara yang jelek-jelek lainnya). 

Tidak berhenti di situ, jika itu jadi jalan keluar, dengan acuan buruknya pilkada tahun kemarin di salah satu sudut Pulau Jawa, itu persis menunjukkan bahwa sebagai orang beragama, kita gagal memberikan pengaruh supaya orang memilih pemimpin berbasis kompetensi. Jangan-jangan, pemegang kekuasaannya sendiri juga takut bahwa kompetensinya, kerjanya, ketulusannya, kebaikannya tak lagi jadi faktor penting untuk politik kekuasaan. Di situ saya jadi sedih, hiksss. Orang tak lagi menghidupi nilai kemanusiaan universal, tetapi memupuk kualitas manusia tribal. Di situ saya jadi sedih lagi, hiksss. Tentu, yang paling menyedihkan ialah bahwa dalam situasi itu saya tak berkutik, tak berbuat apa-apa, tak berdaya.

Tuhan, tunjukkanlah belas kasih-Mu supaya kami semakin memiliki keberanian untuk mengandalkan kekuatan-Mu lebih dari yang lainnya. Amin.  


SABTU BIASA X B/2
16 Juni 2018

1Raj 19,19-21
Mat 5,33-37

Sabtu Biasa X A/1 2017: Mari Geleng-geleng
Sabtu Biasa X A/2 2014: Pemimpin Yang Bekerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s