Kemenangan Krisis

Bahkan Nabi Elia yang mempertobatkan Ahab dan mengalahkan dewa Baal serta mengembalikan hujan di musim paceklik mengalami krisis, Saudara-saudara. Bukan krisis sinyal seperti saya, krisis moneter atau krisis cinta, melainkan krisis apa saya juga gak tau namanya. Karunia dari Allah dan tugas terkait yang diterimanya tak membuatnya bangga, malah membuatnya takut. Ancaman Izebel, istri Ahab, terdengar mengerikan bagi telinganya. Di hadapan banyak orang ia begitu kokoh tetapi dalam kesendiriannya ia collapse dan escape. Ia merasa miskin kemanusiaan: “Aku tak lebih baik dari para pendahuluku.”

Meskipun demikian, excapenya tetap diiringi kehadiran Tuhan juga sih. Ia, representasi manusia pada umumnya, tak tahu penyertaan Tuhan itu, tetapi Tuhan tak kehilangan pandangannya terhadap manusia. Kata-kata-Nya memberi penghiburan dan mengarahkannya pada lokasi perjumpaan dan perwahyuan-Nya. Elia belajar menangkap kehadiran Tuhan dalam peristiwa yang begitu lembut, the subtle breeze (apa sih terjemahannya?). 

Pope Francis dalam khotbahnya dua tahun lalu merefleksikan tiga hal dari misi Nabi Elia. Pertama, untuk menemukan Tuhan, orang perlu keluar dari dirinya sendiri, menceburkan diri dalam perjalanan, peziarahan hidup, gerakan; bukan ngendon dalam kenyamanan. Kedua, ia perlu memupuk keberanian untuk secara sabar menantikan bisikan dari keheningan, saat Dia bicara dalam hati dan berjumpa dengan manusia. Ketiga adalah misinya sendiri: undangan untuk kembali pada langkah orang untuk maju, membawa pesan kehidupan kepada orang lainnya.

Begitu juga kiranya hari kemenangan bagi saudara-saudari Muslim mengandaikan tiga hal tadi. Ibadah puasa tidak mungkin dihayati tanpa kesadaran akan suatu peziarahan hidup. Tanpa kesadaran itu, puasa berhenti sebagai ritual wajib belaka dan puasa hanya soal menahan lapar dan haus atau diet. Dalam kesadaran itu, peristiwa hidup selama masa puasa bisa jadi medium bisikan Allah sendiri terhadap manusia. Orang yang menghidupi puasanya akan dibimbing untuk semakin mengenali kecenderungan-kecenderungan batinnya dan bagaimana konsekuensi sinkronisasi bisikan Allah dalam hidupnya. Akhirnya, modal itulah yang pada gilirannya dipakai untuk memberi kesaksian kepada sesama mengenai bagaimana Allah yang mahabesar itu menuntun hidup orang yang berbakti kepada-Nya sampai pada kesudahannya atau sekurang-kurangnya sampai pada hari kemenangan.

Selamat berhari raya, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kerahiman Allah senantiasa hidup dalam darah-daging kita sekalian. Amin.


JUMAT BIASA X B/2
Hari Raya Idul Fitri
15 Juni 2018

1Raj 19,9a.11-16
Mat 5,27-32

Jumat Biasa X A/1 2017: Harta di Kerapuhan
Jumat Biasa X C/2 2016: Gak Ada Tuhan dalam…
Jumat Biasa X A/2 2014: Ngapain Sih Berdoa Segala?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s