Lebaran Kok Lancar

Teks hari ini terasa keras buat saya, terutama karena saya terposisikan sebagai pemuka agama. Di lingkungan agama saya sendiri saya kerap ditanyai bertugas di gereja mana, padahal saya cuma tinggal di wilayah gereja tertentu tetapi saya tak punya umat #kasiandehlu. Tugas saya belajar dan sambilannya ketak-ketik blog ini, maka sebetulnya teks hari ini seharusnya tak terasa keras, wong cuma sambilan.

Akan tetapi, pada kenyataannya memang teks itu terdengar keras buat saya, terutama karena ada komparasi dengan ahli Taurat dan kaum Farisi: kalau hidup keagamaan tidak lebih benar daripada dua kelompok itu, orang tak layak masuk Kerajaan Surga. Sebetulnya saya juga tak begitu peduli apakah layak masuk Kerajaan Surga atau tidak sih (karena toh ujung-ujungnya Tuhan juga yang menilai layak tidaknya); cuma memang kalau hidup dengan model ahli Taurat dan kaum Farisi yang dimaksud guru dari Nazareth itu, kok ya rasanya garing gitu.

Bayangkanlah diri Anda sebagai corong gerakan #2019gantipresiden dan seluruh upaya Anda tujukan untuk menghancurkan presiden sekarang ini dengan argumentasi hukum dan dengan santainya Anda menikmati seluruh fasilitas, kemudahan, infrastruktur yang dibangun oleh presiden yang hendak Anda ganti di tahun 2019. Apa yang kiranya Anda rasakan? Kalau Anda merasa itu sah-sah saja dalam negara demokratis, tempat segala macam suara boleh diperdengarkan, saya kira, Anda tergolong dalam bilangan mereka yang hidup keagamaannya tak lebih benar daripada ahli Taurat dan kaum Farisi tadi.

‘Benar’ di situ tampaknya lebih dekat dengan ‘rasa keadilan’ sehingga bisa dikatakan bahwa jika ‘rasa keadilan’ orang beragama tak lebih daripada rasa keadilan ahli Taurat dan kaum Farisi itu, ia tak layak masuk ke dalam Kerajaan Surga. Saya bukan pembela presiden sekarang ini, tetapi ‘rasa keadilan’ saya bergejolak ketika melihat orang-orang oportunis mencari-cari aneka cara untuk menjatuhkan nama baiknya seakan-akan presiden sekarang ini begitu buruknya sehingga tak layak melanjutkan kerja revolusi mentalnya.

Dari bagaimana anak-anaknya mencari nafkah saja sudah kelihatan bagaimana presiden ini punya professional boundary yang begitu kokoh. Anaknya tak terjun dalam dunia politik, mendaftarkan diri untuk jadi PNS pun berujung kegagalan. Anak presiden gituloh! Kalau orang setulus ini saja dicela, njuk di mana rasa keadilan itu jal? Kalau jelang hari kemenangan setelah bulan Ramadhan saja disisipi pesan sponsor politik untuk #2019gantipresiden, njuk gimana mau memaknai hari rekonsiliasi, jal? Apakah itu bukannya menjadi pesan kuat bahwa agama cuma diinjak-injak politik kepentingan dan kekuasaan?

Loh, Romo juga bukannya menyodorkan politik kepentingan dan kekuasaan dengan melawan #2019gantipresiden?
Ya bedalah Bang. Tahu bedanya? Tujuan dan sarana. Target dan konsekuensi. Saya bukannya ngotot #2019tetappresiden karena itu hanyalah konsekuensi dari yang saya sasar: ketulusan, kalau itu dihancurkan, mau jadi apa bangsa plural ini? Gerakan #2019gantipresiden itu rasa saya sudah membabi buta menyerang ketulusan. Itu representasi kaum munafik yang hendak mengejar kekuasaan dengan topeng manis.

Tuhan, mohon rahmat supaya hati kami semakin tulus dan senantiasa bersih dari ketidakadilan terhadap sesama. Amin.


KAMIS BIASA X B/2
14 Juni 2018

1Raj 18,41-46
Mat 5,20-26

Kamis Biasa A/1 2017: Halo Kafir
Kamis Biasa C/2 2016: Salaman Eaaaa
Kamis Biasa A/1 2014: Ojo Dumeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s