Martabaknya Bang

Dalam sewindu terakhir, sebagian besar Rabu dan Minggu malam saya isi dengan membeli martabak dan menghabisinya, sejauh tak keduluan tetangga kamar. Tentu tidak setiap Rabu dan Minggu malam itu saya isi martabak, kadang burjo, klepon atau singkong kêju (entah mengapa disebut kêju, padahal singkong itu ya tak pernah lari sendiri dari tempat asalnya ke penggorengan. Justru saya yang antre berdiri ini yang kêju, krik krik krik). Pokoknya, lebih sering saya beli martabak daripada demo di depan warung martabak.

Salah satu hal yang tak saya sukai dari martabak ialah minyaknya (selain penggorengannya); sayangnya minyak itu susah diceraikan dengan adonan telor dan daun loncang serta daging cincangnya. Alhasil saya tak pernah nawar penjual martabak supaya minyaknya dipisah saja; jadi saya terima kelebihan dan kekurangan si martabak ini. Dengan begitu jelaslah bahwa saya membeli martabak bukan karena saya kêsêngsêm pada anak si penjual martabak atau presidennya yang punya anak jualan martabak, melainkan karena ada misi lain di balik jalan sehat itu #loh kok nyampe’ situ?

Martabak saya hadirkan di meja ruang rekreasi pada saat kami kumpul supaya kalau tak punya bahan pembicaraan mulut kami masih bisa komat-kamit dan memberi pekerjaan tambahan bagi divisi pencernaan. Bisa dibayangkan lima sampai sembilan orang berkumpul, duduk mengelilingi meja, njuk cuma diem-dieman selama setengah sampai satu jam, hampir setiap hari sepanjang tahun?
Saya kira masuk akallah kalau dua kali seminggu martabak hadir menemani gerombolan orang yang seharian bekerja keras di tempatnya masing-masing dan martabak ini bisa jadi perekat atau pancingan supaya gerombolan orang itu keluar dari kamarnya masing-masing untuk saling bertemu.

Teks hari ini jelas tidak bicara mengenai martabak. Saya juga tidak hendak membahas martabak, apalagi demo di depan warung martabak [lha judul dan tiga paragraf itu tadi apa, Mo?]. Tomas, murid guru dari Nazareth, yang dipestakan hari ini pun bukan penggemar martabak. Akan tetapi, dari kisahnya terlihat juga adanya fungsi perekat, bukan martabak, melainkan kepercayaan antarmanusia. Mari lihat bahwa hanya dua kali dari tujuh kali pertemuan hadir martabak. Kalau pertemuan itu terjadi cuma karena martabak, tentu lima kali pertemuan lainnya dalam seminggu tak akan terjadi. Peran martabak jadi sekunder di hadapan kepercayaan antarpribadi dan memang itulah yang disarankan guru dari Nazareth itu: setiap orang beriman bisa jadi ‘sumber’ iman orang lain, yang kelak jadi ‘sumber’ iman orang lainnya lagi, tetangganya, temannya, dan seterusnya.

Gimana caranya? Mereka yang jadi ‘sumber’ iman bagi yang lainnya, mesti jadi pribadi autentik, apa adanya, tak terkontaminasi bahkan oleh agama sekalipun: ia sungguh-sungguh meletakkan kepercayaan dan hidupnya kepada sumber iman sesungguhnya, yaitu Allah sendiri. Maka, orang beriman mesti setiap kali melakukan verifikasi sumbernya apakah valid atau hoax. Ini bukan lagi soal penelusuran bahasa asli Kitab Suci atau bunyi dogma agama (karena rawan konflik interpretasi), melainkan soal kejujuran pada diri sendiri apakah sumber imannya itu membuatnya semakin autentik atau semakin munafik. Kalau malah semakin munafik, barangkali kebanyakan martabak.

Ya Allah, mohon rahmat kerendahan hati supaya kami dapat menjadi pribadi tepercaya. Amin.


PESTA S. TOMAS RASUL
Selasa Biasa XIII B/2
3 Juli 2018

Ef 2,19-22
Yoh 20,24-29

Posting 2017: Mengapresiasi Tubuh, Eaaa…
Posting 2015: Makin Suci, Makin
Matre’
 
Posting 2014: Doubter’s Prayer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s