Apa Urusan-Mu?

Narasi teks hari ini melayangkan pikiran saya pada tragedi Danau Toba beberapa waktu lalu. Ratusan orang tenggelam bersama kapal yang kelebihan muatan. Memprihatinkan memang dan bisa jadi menggemaskan, seperti halnya naik pesawat yang akan lepas landas atau cari parkiran dan di kiri kanan orang sudah bersibuk ria dengan telpon atau chat sana-sini. Saya memang tak yakin bahwa sinyal hape membahayakan navigasi, tetapi secara bodoh saya bisa mengerti bagaimana sinyal gawai itu bisa mengakibatkan bunyi tretetetetet yang masuk ke mikrofon. Itu baru satu gawai. Kalau di pesawat ada ratusan gawai yang aktif, apa ya tretetetetetnya tadi tak mengganggu komunikasi pilot dan pemandu ATC? Mboh, tapi sebetulnya tidak sulit mematikan hape, entah karena bahaya atau tidak, bukan?

Sudah ditetapkan tersangka kelebihan muatan, tetapi itu tentu tidak untuk mengatakan bahwa semua kesalahan ditanggung oleh tersangka itu, karena mentalitas tersangka itu bisa jadi hidup dalam diri setiap orang. “Apa urusan-Mu dengan kami?” Itulah yang diteriakkan roh jahat dalam teks hari ini. Dalam hidup konkret zaman now, “Apa urusan-Mu dengan kami?” bukan lagi soal ketidakpedulian orang terhadap Tuhan, melainkan juga ketidakpedulian terhadap apa saja yang terkait dengan bonum commune. Tak ada sense of belonging, rasa menjadi bagian dari suatu bonum commune, rasa menjadi bagian dari Tuhan sendiri. Penjelasannya begini. Orang cenderung memperlakukan Tuhan sebagai objek pemikiran seperti objek-objek lainnya (Masih ingatkah catatan Jangan Mengobjekkan Tuhan?). Cara berpikir seperti ini benar-benar memisahkan Tuhan dari hidup manusia sendiri. Dia adalah sosok berbeda nun jauh di sana.

Dengan cara berpikir begitu, orang lebih cenderung menempatkan urusan Tuhan sebagai urusan ibadat, agama, liturgi, altar, pakaian ‘agamis’, dan lain semacamnya. Tuhan tak ada hubungannya dengan etiket batas muatan kapal, tak ada hubungannya dengan sopan santun berkendara, tak terkait dengan fungsi trotoar, tak berurusan dengan pemakaian helm, pembangunan infrastruktur, penimbunan bahan bakar, demonstrasi martabak, dan seterusnya. Singkatnya, “Apa urusan-Mu dengan kami?” tadi adalah juga manifestasi ketidakpedulian orang terhadap kesejahteraan umum. Balik lagi jadi manusia tribal: yang penting urusanku beres, peduli amat dengan yang lain, sebodo’ amat dengan Pancasila, dan seterusnya.

Tuhan, bantulah kami supaya sungguh menjadi bagian dari kemanusiaan universal, yang berkepedulian terhadap mereka yang tertindas. Amin.


RABU BIASA XIII B/2
4 Juli 2018

Am 5, 14-15.21-24
Mat 8, 28-34

Rabu Biasa XIII A/1 2017: Limit-Experiences
Rabu Biasa XIII B/1 2015: Kenapa Setan Memilih Babi
Rabu Biasa XIII A/2 2014: Setan dalam Babi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s