Iman Bersembunyi

Anda tidak wajib tertawa atau tersenyum mendengar jawaban tebakan “Di mana gajah bersembunyi?” Saya kemarin tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya karena tebakan itu memang disampaikan oleh pelawak. Gak lucu kan kalau pelawak melawak dan saya tidak tertawa? Ya memang terpingkal-pingkal itu agak lebay tetapi karena saya menonton langsung dan hitung-hitung untuk pelepas lelah saya tertawa terbahak-bahak saja [loh ini terbahak-bahak atau terpingkal-pingkal sih?]. Pertanyaan itu disodorkan di seminari menengah (itu loh tempat pendidikan calon pastor yang selevel dengan SMA) seluas empat hektar dengan aneka macam pepohonan dan hehewanan (loh apa ya ada sih kata itu Mo? Lha ada gitu kok).

Penonton tentu berpikir bahwa gajah bersembunyi di kandang, di kebun binatang, atau di hutan, misalnya. Akan tetapi itu bukan jawaban pelawak alias bukan jawaban kreatif. Jawabannya: gajah bersembunyi di seminari menengah ini. Tentu saja timbul pertanyaan “Lha mana sejak tadi berada di kompleks seminari menengah kok ya tidak ada gajahnya?” Persis di situlah kreatifnya si pelawak: lha ya jelas gak ada wong namanya juga sembunyi kok!

Iman bukanlah sarang orang untuk bersembunyi; juga bukan suaka bagi orang untuk menghindari dunia kejam nan jahat, yang tak kunjung memahami orang beriman itu sendiri; bukan pula kasur empuk nan nyaman untuk tutup mata pada problematika dunia. Guru dari Nazareth dalam teks bacaan hari ini omong soal kebalikannya. Kalau orang sungguh beriman dan hendak menempuh jalan kemuridan, ia mesti realistis bahwa risiko senantiasa jadi bagian dari opsi kehidupan. Ini bukan soal tak boleh punya kasur empuk atau rumah untuk berteduh dan bantal untuk meletakkan kepala, melainkan soal memeluk kabar gembira sedemikian rupa sehingga hal-hal yang disebutkan tadi tidak justru jadi halangan untuk merealisasikan kemuridan itu.

Guru iman itu mengundang supaya orang berhenti terpaku pada masa lalu, tidak jadi romantis-romantisan dengan masa lalu dan tak usah risau dengan hasil tindakan baiknya; juga jika tindakan baik itu dilakukan dengan pengorbanan hebat. Just do it (cuma uang!) and let it go. Yang pertama mudah, apalagi kalau orang tak terbiasa menimbang masak-masak motif atau tujuan tindakannya. Yang kedua lebih sulit karena orang bahkan cenderung terlekat secara emosional pada apa yang menurutnya baik.

Tuhan, mohon rahmat kekuatan supaya iman kami sungguh jadi ajang untuk berbakti dan bukannya bersembunyi. Amin.


SENIN BIASA XIII B/2
2 Juli 2018

Am 2,6-10.13-16
Mat 8,18-22

Senin Biasa XIII C/2 2016: Jangan Ngikut Orang Kristen
Senin Biasa XIII A/2 2014: Social Injustice: Mass Offside

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s