Allah Penghukum?

Penulis Injil itu kadang-kadang agak lebay dengan bahasa simbol. Hari ini diceritakan dua perempuan sakit yang terhubung dengan angka dua belas. Perempuan pertama dua belas tahun sakit pendarahan. Perempuan kedua yang dianggap sudah mati, bangun lagi dan berjalan karena umurnya sudah dua belas tahun. Lha, rak gak ada hubungannya antara berjalan dan umurnya sudah dua belas tahun, bukan? Berjalan pada umur tiga tahun juga boleh kok, mengapa mesti diterangkan dua belas tahun umurnya? Ha ya itu tadi yang saya bilang agak lebay, biar ada angka yang jadi penghubung antara wanita yang sakit pendarahan dan anak perempuan kepala rumah ibadat itu.

Angka itu merujuk pada jumlah rasul sang guru dari Nazareth yang juga mengingatkan orang pada dua belas suku Israel seutuhnya. Israel sendiri diimajinasikan sebagai wanita subur yang menerima janji berkat Allah. Berkat dalam bahasa Kitab Suci berarti ‘memberi hidup’ (bdk. posting Bagaimana Memberkati Tuhan). Berkat pertama Allah sudah diberikan sebagai perintah supaya manusia ini beranak cucu, dan itu pula yang dijanjikan-Nya kepada Abraham meskipun semula didapatinya istrinya tak kunjung punya anak. Pemenuhan janji berkat itulah yang mengasosiasikan bangsa Israel dengan wanita subur yang diberkati Allah.

Kalau mempertimbangkan kisah kedatangan guru dari Nazareth, bisa kita pahami bahwa kalau Tuhan itu sungguh hadir dalam hidup manusia, dalam kemanusiaan, Ia hadir bukan bukan untuk menghukum dan bikin penyakit, melainkan untuk mencintai dan menyembuhkan. Begitu juga yang dituliskan dalam bacaan pertama: Tuhan tidak membuat kematian, melainkan membuat kehidupan kekal. Dia adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati. Maksudnya, dari-Nya diperoleh kehidupan, bukan kematian.

Maka dari itu, baik juga direfleksikan oleh orang beriman apakah ia sungguh-sungguh membawa paham Allah orang hidup ini, atau malah mempersaksikan paham Allah yang hobi menghukum dengan penderitaan manusia. Paham pertama, menurut rasa saya kok lebih langgeng sifatnya daripada paham kedua.
Loh, tapi bukannya memang paham kedua itu lebih benar, Mo? Bahkan, dalam perspektif agama Kristiani sendiri bukankah keselamatan manusia itu terjadi karena pengorbanan Yesus, karena penderitaannya? Bukankah itu yang senantiasa digembar-gemborkan: Yesus menebus dosa manusia lewat penderitaan dan wafatnya di salib?

Tetot saja ya. Ini bukan maksud saya bermain silat lidah. Betul bahwa keselamatan terjadi lewat pengorbanan Yesus, tetapi bukan pengorbanannya sendiri yang menyelamatkan dong! Betul bahwa karena Yesus menderita, banyak orang jiwanya terselamatkan, tetapi bukan penderitaannya sendiri yang menyelamatkan. Penderitaan itu hanya konsekuensi ketaatan guru dari Nazareth itu pada kehendak Allahnya. Maka, kalau orang beriman berfokus pada penderitaan dan pengorbanan, ia ada dalam bahaya tersesat di jalan.

Ini disinggung oleh bacaan kedua: cintalah yang mentransformasi hidup, kasihlah yang memberdayakan kemanusiaan. Bukan hukuman, bukan siksaan, bukan kerasnya hidup, dan sejenisnya. Maka, pekerjaan rumah setiap hari bagi orang beriman bukanlah berkorban, menderita, cari susah, menanggung beban, melainkan mencinta MESKIPUN lewat pengorbanan, susah, menderita, dan seterusnya.
Bukannya itu sama aja ya, Mo? Ujung-ujungnya toh sama-sama menderita juga.
Ya tetap beda, Bu’. Dari luar tampak sama, tetapi dalemannya berbeda dan bahagianya juga beda.

Tuhan, mohon rahmat kemurahan hati supaya cinta-Mu lebih terealisasi daripada keserakahan kami. Amin.


HARI MINGGU BIASA XIII B/2
1 Juli 2018

Keb 1,13-15;2,23-24
2Kor 8,7.9.13-15
Mrk 5,21-43

Posting Tahun 2015: Life-Giving Touch

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s