Dukun Quick Count

Kemarin dulu saya singgung orang-pintar-dalam-tanda-petik dan kemarin muncul berita orang yang mengklaim orang-pintar-dalam-tanda-petiknya lebih joss daripada lembaga survei yang bersliweran selama Pilkada lalu. Ya, dia pakai istilah dukun dan populerlah berita perseteruan antara dukun dan lembaga survei. Saya kira yang bikin populer bukan dukun vs lembaga surveinya sih, melainkan tokoh yang melontarkan wacana itu, yang memang terkenal. [Tentu, Anda sudah tahu apa bedanya famous dan notorious, dua-duanya berarti terkenal.]

Tokoh kita guru dari Nazareth ini sebetulnya punya kemampuan bawaan yang bisa diberi label dukun juga, terlepas dari persoalan konotasi negatifnya. Prinsipnya sama. Ia punya kemampuan sebagai penyembuh, bahkan meskipun tidak kuliah kedokteran dan koas di pedalaman atau tempat terpencil. Barangkali label tabib lebih netral sifatnya. Akan tetapi, entah sebagai tabib atau dukun, teks hari ini adalah kelanjutan kisah penyembuhan setelah ia turun dari bukit. Ada apa di bukit? Ia berdoa. Apa ada hubungannya doa dengan penyembuhan? Rupanya ada: doa memperkuat identitasnya sebagai distributor berkat Allah yang berkenan menyembuhkan umat manusia tanpa batas-batas agama yang dibikin manusia sendiri.

Dalam teks hari ini, berkat yang menembus batas atau sekat agama itu ditunjukkan dengan kisah penyembuhan seorang hamba dari perwira Romawi (yang tentu dicap kafir oleh orang Yahudi). Penyembuhannya pun nyentrik. Atas permintaan perwira Romawi sendiri guru dari Nazareth ini tidak mendatangi pasien: kata-katanya kiranya cukup. Kepercayaan perwira Romawi ini jadi sufficient condition bahwa kuasa penyembuhan mencapai tujuannya. Setelah itu, sang guru masih menyembuhkan orang-orang lain. Begitulah tabib yang adalah pendoa: doa menjadi tindakan, dan tindakannya adalah sebuah doa. Hal yang tidak bisa begitu saja dipunyai murid-muridnya, lha wong belajar doa aja setengah mati rasanya, hahaha.

Meskipun demikian, ada prinsip yang berlaku bahkan jika orang memang tak punya karunia sebagai tabib: tindakan yang sungguh-sungguh berasal dari cinta sejati, semuanya penuh dengan terang, cahaya, terang ilahi.
Begitulah Pe-eRnya: bagaimana doa-doa orang beragama terarah pada kemanusiaan universal, bagaimana paham keumatan semakin diperluas, dan bukannya dipersempit oleh kategori agama bikinan manusia sendiri.

Tuhan, mohon rahmat keluasan hati supaya cinta-Mu boleh juga dirasakan oleh semakin banyak orang. Amin.


SABTU BIASA XII B/2
30 Juni 2018

Rat 2,2.10-13.18-19
Mat 8,5-17

Sabtu Biasa XII A/1 2017: Tak Seberat Muatanku
Sabtu Biasa XII C/2 2016: Long Distance Faith
Sabtu Biasa XII B/1 2015: Iman Customer Service

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s