Daging dalam Duri

Seperti apa rasanya punya duri dalam daging? Saya tak tahu, saya cuma trauma terhadap duri ikan, entah lembut atau kasar, dan itu salah satu alasan mengapa saya cenderung tidak mengikuti saran Bu Susi untuk makan ikan. Kalau gusi itu daging, saya tahu gak enaknya punya duri dalam daging, meskipun tak begitu sakit seperti sayatan sembilu, eaaaa… Meskipun demikian, barangkali teks hari ini boleh jadi inspiratif bagi hidup orang beriman: suatu duri dalam daging menggocoh (meninju keras-keras) aku supaya aku jangan meninggikan diri.

Ada sebagian orang yang mengeluhkan duri dalam daging (seperti saya yang trauma itu) meskipun tahu bahwa duri itu memang tempatnya di dalam daging. Kalau di luar daging, jadi filet toh dagingnya, ato gimana? Apapun itu, mengeluh karena “duri dalam daging” itu sepertinya gak bagus-bagus amat untuk beriman.

Sewaktu SMP dulu saya ikut kompetisi adu panco dan saya punya satu teman yang selalu saja mengalahkan saya. Sebutlah namanya Bungo, karena Bunga sudah mainstream. Saya berlatih keras dan tiba saatnya saya uji coba dengan teman lain yang baru pulang dari Amerika. Perawakannya besar dan teman-teman menjajal tenaganya. Saya juga ikut giliran. Dia menyiapkan tangan kanan dengan siku di atas meja, dan tangan kirinya memegang camilan. Setiap teman yang beradu panco dengannya selalu ditanya soal kesiapannya. Begitu dijawab siap, tak ada seperempat detik, punggung telapak tangan teman-teman sudah terbanting menyentuh meja.

Pada saat giliran saya, tentu saja saya kalah, tetapi tidak dalam hitungan seperempat detik, melainkan 1,212 detik! (Piye jal ngitunge Mo?) Artinya, saya mengalami kemajuan signifikan karena teman-teman saya itu juga biasanya dengan saya saling mengalahkan (mboh nèk kanca saka Amrik iki ngapusi aku dengan drama). Teman-teman saya sendiri terheran-heran karena saya bisa menahan tangan teman Amrik ini lebih dari setengah detik.

Keesokan harinya saya ketemu Bungo dan saya ajaklah dia berpancu. Bungo senang-senang saja dan benarlah, Bungo tak bisa menggerakkan tangan saya. Saya tidak kalah. Akan tetapi, beberapa detik setelah kami mengerahkan tenaga luar dalam itu, terdengar bunyi seperti ranting terinjak kaki. Kami berhenti, dan tersadarlah saya bahwa tangan saya tak beres, tak bisa diluruskan lagi (sampai sekarang). Singkatnya, tangan saya cacat seumur hidup meskipun sudah berusaha mengobatinya.

Herannya, saya tidak mengeluh terus menerus (tentu setelah saya krisis kepercayaan kepada Allah dulu, hahaha). Malahan karena itu saya bisa mengaktifkan tangan kiri untuk dribbling bola basket atau push up dengan satu tangan (kiri) dan yang lebih menjengkelkan para lawan ialah saya ikut tim inti voli dan di saat kritis saya masuk dan bermain voli hanya dengan satu tangan (kiri), dan menang! Wahaha… saya tentu dianggap meremehkan lawan, padahal saya bisanya ya cuma pakai tangan kiri.

Duri dalam daging justru membantu orang beriman supaya tidak meninggikan diri baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Jadi, mungkin baik juga ada duri dalam daging ya asalkan orang tidak menjadi duri dalam daging bagi orang lain, eaaaaa.

Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati supaya kami mampu melihat bagaimana Engkau bekerja juga melalui kerapuhan diri dan sesama. Amin.


HARI MINGGU BIASA XIV B/2
8 Juli 2018

Yeh 2,2-5
2Kor 12,7-10
Mrk 6,1-6

Posting Tahun 2015: No Faith, No Miracle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s