Liburan Nyuk

Anda barangkali tak suka melihat orang berdoa sambil bercanda, tetapi mungkin senang kalau orang lain dalam candanya malah berdoa. Kalau begitu, mungkin tidak sulit membuat Anda senang, tinggal mengganti cara pandang saja: alih-alih melihat orang berdoa sambil bercanda, Anda melihat mereka bercanda sambil berdoa. Nah, senang gak? Kalau enggak ya salah sendiri, hahaha.

Teks hari ini menyodorkan ajakan guru dari Nazareth untuk beristirahat dan begitu mendengar kata ‘istirahat’ kita akan langsung mengaitkannya dengan kerja yang mesti dihentikan sesaat, cuti, liburan, dan sejenisnya. Ini tidak keliru dan wajar saja karena memang begitulah kita biasa memaknainya. Coba sekarang kata ‘istirahat’ itu kita ganti dengan kata ‘doa’. Kita juga akan cenderung mengaitkannya dengan kegiatan fisik yang harus dihentikan untuk melakukan kegiatan doa itu. Artinya, doa diperlakukan sebagai kegiatan fisik juga, dan itulah yang hendak saya kritisi di sini.

Kalau doa ditangkap sebagai kegiatan fisik, ia tidak lebih daripada ritual. Tak mengherankan, doa dimengerti melulu sebagai ibadat agama: hari Jumat, hari Minggu, satu jam hari biasa, dua jam hari raya, memakai dupa dan gong, jubah, mantila, dan seterusnya. Begitulah cerdiknya roh jahat; ia bisa menggunakan unsur-unsur ritual supaya orang tak beranjak dari ritualisme. Ritual bukannya buruk, tetapi kalau orang yang menjalankannya menangkap doa hanya dalam kategori ritual, ia terjerembab dalam ritualisme dan doa jadi dangkal karena jadi rutinitas belaka, betapapun njelimetnya rumusan dan pernik-pernik upacaranya (dan malah bikin friksi antara penjaga ritual asli dan kaum yang dinilainya liberal atau progresif atau entah apa lagi).

Kalau saja ‘doa’ dan ‘istirahat’ tadi dipadukan, sebetulnya malah hidup ini jadi indah. Memang tidak gampang memadukannya. Orang mesti membuang paham-paham sesatnya. Mari andaikan bahwa doa adalah istirahat, dan dengan demikian, ajakan guru dari Nazareth hari ini tidak lain adalah ajakan untuk berdoa. Akan tetapi, kalau kita perhatikan teksnya, kelihatan bahwa mereka gagal berdoa karena baru bertolak dari bibir danau saja sudah ketahuan mereka mau ke mana dan orang banyak tiba lebih dahulu di tempat tujuan mereka. Nah, mana sempat berdoa?

Persis pertanyaan itu muncul karena orang memahami doa sebagai ritual atau ibadat agama. Dalam perjalanan dengan perahu itu, para murid berkumpul bersama Tuhan dan bisa jadi mereka ngobrol membahas aneka persoalan dan ujung-ujungnya mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada mereka. Persis itulah maksudnya doa dan itu jugalah maksudnya istirahat sejenak. Poinnya bukan cuti kantor atau tanggal merah atau liburan semester, melainkan kesadaran untuk mendengarkan Tuhan, dan bukannya ribut dengan persoalan kerja (bahkan termasuk liturgi, eaaaa). 

Tujuan istirahat yang dimaksud di sini berarti kedamaian interior, ketentraman jiwa, ketenangan hati yang membuat orang akhirnya menemukan kembali dalam dirinya makna hidupnya a.k.a. happiness. Kalau orang beriman menangkap doa sebagai istirahat seperti yang saya gambarkan di sini, ia tetap saja bisa bertekun mengikuti ritual tetapi ritual itu baginya jadi momen doa sesungguhnya, istirahat sesungguhnya dan dengan begitu, ia dapat melanjutkan kerjanya dengan kegembiraan hati karena makna hidup melekat dalam kesadarannya. Ketentraman jiwa bisa dialami bahkan saat kesibukan meningkat, ketenangan hati terjadi bahkan saat ada konflik. Orang happy. Amin.


HARI MINGGU BIASA XVI B/2
22 Juli 2018

Yer 23,1-6
Ef 2,13-18
Mrk 6,30-34

Posting Tahun 2015: Misa Kok Tegang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s