Lompatlah, Nak

Jean Paul Sartre pun, katanya, saya juga tidak mendengarnya sendiri, mengatakan bahwa mencintai seseorang itu sangatlah sulit karena membutuhkan energi, kemurahan hati, kebutaan. Bahkan, ada momen, di awal, ketika orang mesti melompati jurang dalam, yang kalau dia pikir ulang secara rasional malah mungkin ia tak jadi melompatinya. Believe it or not ya sumangga atuh.

Itu berlaku bukan cuma untuk cinta-cintaan Dilan-Milea, melainkan juga untuk hidup beriman. Kalau iman orang senantiasa diarahkan sebagai bisnis untuk mencari kepuasan visual, bisa jadi imannya krisis atau tak berkembang jadi lebih matang. Sudah saya singgung pada posting To Whom Shall We Go bukan, bahwa kepuasan visual tak membantu orang untuk melibatkan diri dalam proyek kebesaran Tuhan itu? Betul loh, tidak otomatis orang yang melihat kebesaran Allah dalam peristiwa atau hal besar njuk imannya bertambah matang, cintanya bertambah dewasa, dan hidupnya jadi lebih bertanggung jawab. Bisa-bisa malah kepuasan visual itu cuma jadi penutup comberan yang mengurangi bau tetapi tak mendorong orang untuk mengatasi penyebab baunya, apalagi kalau baunya politis, eaaaa….

Teks bacaan hari ini menyinggung ketidakpuasan visual mereka yang menentang guru dari Nazareth dan si guru itu tidak begitu saja memenuhi dorongan kepuasan visual mereka. “Kurang apa, coba?” begitu kata teks bacaan pertama. Kepuasan visual itu terhubung juga dengan aneka rasionalisasi orang. Ini mengingatkan saya pada ungkapan dosen saya yang rendah hati (padahal dosen saya semuanya rendah hati): ia baru mendapati bahwa suatu sistem pemikiran agama ‘kuno’, kalau ditelusuri sampai akar-akarnya, ternyata lebih rumit daripada sistem pemikiran agama ‘modern’. Itu menunjukkan bahwa rasionalitas manusia bukanlah elemen superior dalam hidup beriman dan, kembali ke atas, dalam cinta.

Kalau orang sungguh berhadapan dengan cinta, hidup dalam cinta, seluruh sistem rasionalitasnya bisa ambrol dan tak ada agama yang bisa bertahan. Maaf, mohon tidak menangkap kalimat ini dengan kacamata cinta buta ala anak yang sedang mengalami kasmaran atau infatuation. Ini bukan soal tiada gunanya rasionalitas, melainkan soal lompatan iman, yang paralel juga dengan kata-kata Jean Paul Sartre tadi: kalau orang cuma berpikir-pikir terus, akhirnya ia tidak memutuskan apa-apa, tidak mengambil tindakan apa-apa, tidak membuktikan apa-apa. Itu mengapa si guru dari Nazareth cuma bilang bahwa kisah Nabi Yunus sudah cukup. Mau menempatkan diri dalam kepercayaan akan kebangkitan atau tidak, silakan tentukan sendiri dan tak usah banyak argumentasi mengenai hidup yang diziarahi, ditekuni dengan sepenuh hati.

Ya Allah, mampukanlah kami untuk keluar dari kedangkalan hidup dan mulai berani mengambil keputusan untuk hidup dalam cinta-Mu yang memerdekakan. Amin.


SENIN BIASA XVI B/2
23 Juli 2018

Mi 6,1-4.6-8
Mat 12,38-42

Senin Biasa XVI A/1 2017: Percaya Itu Indah? Gombal
Senin Biasa XVI C/2 2016: Takhayul Bego’
Senin Biasa XVI B/1 2015:
All about Relationship
Senin Biasa XVI A/2 2014: Permintaan Kurang Ajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s