Torang Samua Basudara

Hubungan kekerabatan yang berasal dari ikatan darah dan perkawinan tampaknya mengasikkan jika menilik bagaimana suatu trah bisa melakukan reuni keluarga dalam keakraban keluarga besar. Akan tetapi, pantas diingat juga bahwa relasi yang berbasis ikatan seperti itu punya potensi memupuk tumbuhnya manusia tribal karena modal “makan gak makan yang penting kumpul” bisa jadi menepikan kepentingan nilai yang lebih utama dari perkumpulan itu sendiri. Ambillah contoh ekstrem praktik nepotisme penguasa politik yang membuat perkumpulan tadi jadi gurita penghisap kekayaan negara yang semestinya bisa dinikmati oleh jauh lebih besar warga negara.

Hubungan kekerabatan yang inspirasinya berasal dari Allah, saya yakin, lebih penting daripada hubungan yang berasal dari ikatan darah. Akan tetapi, pantas diingat bahwa pernyataan itu juga bisa direduksi oleh manusia tribal: Allah agamaku, Allah yang dipercayai keluargaku, Allah yang dirumuskan guru rohaniku, dan seterusnya. Akhirnya, ideologi itu tidak hanya menepikan ikatan darah, tetapi juga menyingkirkan kemanusiaan. Ambillah contoh ekstremnya ialah praktik radikalisme yang tidak pandang ikatan darah: bahkan ibu sendiri dibunuh karena paham agamanya tidak semurni paham agama si radikalis.

Persaudaraan orang beriman bukanlah buah dari komitmen moral atau semangat korporat, melainkan buah dari pemaknaan akan iman yang membuat orang semakin welcoming others. Persaudaraan semacam ini, sejauh saya mengalaminya, jauh lebih indah dan mengasikkan daripada persaudaraan yang dibangun oleh kesamaan kolom agama di KTP atau kesamaan nama keluarga. Itulah yang ditawarkan oleh guru dari Nazareth dalam bacaan hari ini: kalau mau bersaudara dengan semakin banyak orang, masuklah ke kedalaman hatimu, dengarkanlah kehendak Allah di sana dan dengarkanlah juga kehendak Allah lewat orang lain dan temukanlah suara Allah itu dalam kebersamaan.

Di dalam persaudaraan seperti itu, bisa jadi juga ada komitmen moral atau semangat korporat (tidak buang sampah sembarangan, tidak membuang-buang makanan, kultur tepat waktu, dan lain-lainnya), tetapi itu tidak lagi berasal dari resep tuntunan moral dari luar, tetapi sebagai buah orang mendengarkan suara Allah melalui batin sendiri dan sesama. Resep tuntunan moral dari luar cenderung membuat orang lelah, sedangkan mendengarkan kehendak Allah itu membawa orang jadi pribadi avonturir, yang siap berjumpa dengan aneka hal yang berbeda.

Tuhan, mohon rahmat kedalaman batin untuk menangkap kehendak-Mu dalam keberbedaan kami bersama. Amin.


SELASA BIASA XVI B/2
24 Juli 2018

Mi 7,14-15.18-20
Mat 12,46-50

Selasa Biasa XVI C/2 2016: Susah Ya Mendengarkan?
Selasa Biasa XVI B/1 2015: Keluarga Ancur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s