Kali Item Mambu

Sekarang kita tahu bahwa kali item mambu itu bisa jadi simbol. Simbol apa? Simbol gerombolan manusia yang kehilangan solidaritas sosial dan menggantinya dengan kosmetik tebal. Apakah ini sindiran untuk gabener dan pasangannya? Gak juga karena belum tentu yang bersangkutan merasa disindir. Ini adalah sindiran untuk saya sendiri.

Dua puluh lima tahun saya berstatus warga pinggiran kali yang saya tak tahu apakah terhubung dengan kali item bau yang belakangan jadi perhatian menjelang Asian Games. Banjir jadi langganan dan kali berair hitam bukanlah hal yang aneh. Pernah juga ada pabrik tahu dua puluh meter lebih 40 cm dari tempat tinggal saya. Waktu itu saya tak bermasalah dengan aromanya karena bagi saya yang penting rasa tahunya, yang langsung dibeli dari pabrik dan masih hangat itu, gurihnya luar biasa. [Andai saja saat itu saya tahu sambal bawang, hmmmm…] Sewaktu masa kuliah pun saya melewati Kali Sentiong tapi tak punya masalah dengan aroma kali saat itu (beda lokasi).

Sebetulnya sejak SD saya sudah bertanya-tanya mengapa air kali itu kadang berwarna hitam, tetapi saya tak sampai pada kesadaran ekologis. Saya punya teman bernama Nano, tetapi tak ada dalam benak saya waktu itu soal nano bubble. Pokoknya, setelah SMP saya tahu bahwa warna air kali itu disumbang oleh limbah misalnya pabrik tekstil, tetapi saat itu saya tak punya kesadaran sosial bahwa di balik warna kali item itu ada mentalitas atau kultur tertentu yang terpelihara secara struktural. Artinya, guru kencing berdiri murid kencing berlari dan anjingnya malah kencing ke toilet pom bensin, wis ra cetha dari pucuk pimpinan sampai jongosnya.

Maka, kalau baru sekarang kali item bau alias mambu itu jadi perkara, barangkali warga kota itu, seperti saya, punya kesadaran sosial dan solidaritas sosialnya terlambat atau mungkin juga aparat strukturalnya memperlambat kesadaran sosial dengan kepentingan politiknya. Entahlah, yang jelas, ini erat terkait dengan mentalitas kerja dari mereka yang punya kuasa menata warga. Kalau mentalitas kerjanya korup, dengan mudah mentalitas itu diserap oleh aparat di bawahnya. Saya tidak yakin sebaliknya: penguasa yang tak korup dan tulus hati justru akan mendapat tentangan dari mereka yang sudah terbiasa dengan mentalitas korup itu. Kenapa? Tak perlu berpanjang lebar: menebang pohon jauh lebih cepat daripada merawat, menumbuhkan, membesarkannya.

Begitulah, menutup kali item mambu dengan waring memang jauh lebih cepat daripada menjernihkan kali item. Katanya, penyebab kali item mambu itu multi sources. Maka, Anda jangan cuma enak-enak kritik di ruangan AC yang nyaman loh. Turunlah ke lapangan dan bantu penguasa ini, biar pembantu gabener untuk nyêpêtin pembangunan (bikin sêpêt pembangunan?) yang berbayar itu, bisa bergantian duduk di ruangan AC yang nyaman, tidak terus berpanas-panas di lapangan.
Barangkali penguasa macam begini bisa juga dimasukkan dalam kategori bertangan besi, meskipun tidak sampai menghilangkan aktivis 1998 (karena ini tahun 2018). Soalnya, tangan besi terlebih dahulu menghilangkan akal sehat dan cuma sibuk dengan kuasa bermodalkan lip gloss [apapun ‘merk’-nya].

Tuhan, mohon rahmat supaya tangan kami tak jadi besi untuk melayani-Mu dan sesama. Amin.


PESTA SANTO YAKOBUS RASUL
(Rabu Biasa XVI B/2)
25 Juli 2018

2Kor 4,7-15
Mat 20,20-28

Posting 2017: Bumi Kita Sama
Posting 2016: Adakah Iman Selebriti?

Posting 2015: Merasa Bisa, Tak Bisa Merasa

Posting 2014: Jabatan = Pelayanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s