Beautifikasi Mbahmu

Saya kenal beatifikasi dalam bahasa Indonesia, tetapi beautifikasi itu tidak ada dalam KBBI daring pada saat saya mengetik posting ini. Saya mengerti maksudnya karena itu cuma terjemahan dari bahasa Inggris, beautification, yang menurut Wikipedia berarti the process of making visual improvements to a person, place, or thing. Inilah contoh beautifikasi yang dimaksudkan:

Jujur saja ya, kesampingkanlah prasangka-prasangka dan konteks hidup yang menyertai foto di atas: cantikkah landscape itu? Kalau Anda bilang tidak cantik, Anda mendukung tesis gabener untuk mempercantik lingkungan wisma atlet itu. Alur berpikirnya: ditutupi waring saja belum cukup mempercantik, apalagi kalau tidak ditutupi waring! Kalau Anda bilang cantik, Anda tidak hanya mendukung tesis gabener, tetapi mungkin juga mendukung gabenernya. Jadi, entah Anda bilang cantik atau tidak, Anda pendukung gabener, eaaaaa maksa’ banget sih, Mo, sakit ati ma gabener ya?

Sudahlah, Mo, tak usah bahas itu lagi, bikin nafsu makan mlotrok (loh kok kaya kathok). Hentikan omong kosong ini! Lebih baik kembali ke teks hari ini: berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar!

Ya justru karena membaca teks itulah di benak saya muncul “beautifikasi mbahmu”. Pertama tadi karena beautifikasi tak ada dalam kamus Indonesia. Piye jal mengucapkannya? Byutifikasi? Bea-utifikasi? Atau mau dipadankan dengan beatifikasi? “Berbahagialah matamu” dalam bahasa Itali berbunyi beati i vostri occhi yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris jadi blessed are your eyes atau happy are your eyes. Kenapa berbahagia atau terberkati? Karena (bisa) melihat! Itulah alasan kedua: bagaimana berbahagia atau terberkati kalau tidak melihat? Beautifikasi mbahmu gituloh.

Loh, Mo, lupa ya? Kan ada teks lain yang mengatakan “Berbahagialah kamu yang tidak melihat.” Jadi, gak usah maksa bahwa orang mesti bisa melihat supaya berbahagia atau terberkati dong! Betul, tetapi kalimat itu ada lanjutannya: tetapi percaya. Orang yang tak melihat tetapi percaya, itu berbahagia. Kalau orang itu tak (mau) melihat dan tak percaya, apalagi malah mau bikin framing supaya publik menyalahkan orang lain, namanya gabener. Terhadap gabener begini, sebaiknya ekstra waspada supaya framingnya tidak menjadi-jadi dan nanti terulang lagi kejadian pilkada yang menghasilkan pasangan gabener. Kalau perlu, warga tidak boleh tinggal diam seperti konsumen yang menganggap cacat produksi cuma dirinya sendiri yang memperolehnya. Ini soal keadilan sosial, masbrow mbaksis.

Saya memang jarang-jarang lewat Kali Item itu, tetapi dulu saya tak pernah mengeluhkan baunya dan itemnya. Ini bukan karena saya gila pimpinan terdahulu, melainkan karena saya ingin sebanyak mungkin orang melihat apa adanya, tidak dipelintir oleh gabener. Berbahagialah orang yang matanya melihat dan percaya pada kebenaran yang mesti diperjuangkannya, bukan malah mempropagandakan kegabeneran. Jadi, silakan lihat kembali foto di atas dan timbang-timbanglah: keindahan atau kecantikan manakah yang sedang kuperjuangkan? Keindahan waring atau kecantikan berpikir? Keindahan nan munafik atau kecantikan batin? Kesan dangkal atau aksi-refleksi mendalam? Kalau pilihan Anda seperti pilihan gabener, Anda berhak mendengarkan seruan “beautifikasi mbahmu”.

Tuhan, mohon rahmat keteguhan hati supaya kami semakin mampu melihat kebenaran-Mu yang melampaui aneka prasangka SARA kami. Amin.


PERINGATAN WAJIB ST. YOAKIM DAN ANNA
(Kamis Biasa XVI B/2)
26 Juli 2018

Sir 44,1.10-15
Mat 13,16-17

Posting 2016: Jadi Ortu Bersyarat
Posting 2014: Perlu Hari Orang Sakit?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s