Mission Impossible

Tadi malam saya nonton Mission Impossible loh, tetapi yang menarik bagi saya justru komentar tetangga sebelah yang tak berhubungan dengan Fallout alias gogrok. Dia bilang “anak-anak” zaman now bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memikirkan caption foto mereka. E-buset (elektronik buset?), itu demi quotation of the day yang pantas dihidupi atau karena tak tahu lagi mana yang penting diseriusi dan mana yang perlu dibahas sambil lalu ya? Entahlah, yang jelas, komentar tadi mengingatkan saya akan satu hal: dunia sedang dilanda wabah kedangkalan, manusia larut dan tenggelam dalam kesenangan sesaat, pribadi-pribadi menghilang tanpa identitas, komunikasi begitu immediate dan spontan, tanpa pertimbangan dan pikiran matang, pergaulan berjalan tanpa ketulusan hati, kejujuran, dan keikhlasan. Ini parafrase bagian doa geng tempat saya berlindung yang tahun ini menaruh perhatian pada orang muda dan karena itu teman-teman muda berusaha mencari cara untuk menawarkan kedalaman hidup dalam dunia kedangkalan. Piye jal?

Keyakinan saya: tak ada satu pun sarana yang bisa memberikan kedalaman bagi dunia kedangkalan. Hambok Kitab Suci mau ditampilkan dengan hologram warna-warni supaya menarik atau dibenamkan dalam aplikasi gawai atau dicangkokkan dalam otak manusia sekalipun, kedalaman hidup itu tidak dengan sendirinya terjadi. Kenapa? Karena kedalaman hidup tidak berbanding lurus dengan kemajuan teknologi. Jangan-jangan, kedangkalan hidup justru adalah produk teknologi. Saya tak mau berspekulasi terlalu jauh: kedalaman hidup tidak diukur oleh teknologi, tetapi oleh hati.

Kalau begitu, halnya jadi sulit, sesulit menerima Sabda Allah, sesulit memahami makna yang mendalam karena memang berbagai alasan bisa disodorkan: kurangnya waktu (padahal sejak lama sudah disepakati sehari 24 jam), kurangnya keakraban minimal dengan Kitab Suci, susahnya mengerti teks yang seringkali kompleks dan problematis secara historis, mesti baca posting berulang-ulang baru paham dan sebagainya. Owkay, tetapi bisa jadi itu cuma lapisan dari kemalasan mental tertentu yang membuat seseorang percaya bahwa ia sudah cukup tahu, gak butuh hal-hal itu, sudah cukup beriman, sudah cukup jadi murid, dan pada akhirnya merasa diri lebih baik daripada orang kafir, ateis, jarang beribadat, dan seterusnya. [Janjane itu juga keheranan saya: mengapa kalau orang sudah berusaha sekuat-kuatnya melakukan yang benar, ia jadi merasa lebih benar daripada yang lain ya?]

Allah senantiasa menaburkan Sabda-Nya secara berlimpah dan orang bisa menemukannya di mana-mana: dalam cetakan Kitab Suci, dalam lukisan da Vinci atau dalam gawai lima inci. Bahkan, Anda bisa mendapati komentar atau catatan berhubungan dengan Kitab Suci itu secara gratis (seperti pada blog ini, eaaaa…. gratisan… soalnya ada yang mbayari, hahaha….). Meskipun demikian, entah gratis atau berbayar, Sabda Allah itu tak bisa disambut oleh kecanggihan teknologi. Hati terbukalah yang bisa menyambutnya dan itu mengandaikan kehendak kuat untuk tidak membiarkan Sabda menjadi mode sesaat atau antusiasme palsu, supaya Ia tak tercekik oleh kecemasan hidup sehari-hari. Berita gembiranya, kalau orang membuka hati, Sabda itulah yang akan menghasilkan buah, bukan orang itu sendiri atau teknologinya. Kalau begitu, tugasnya realistis, bukan mission impossible untuk memberikan kedalaman, melainkan menawarkan kedalaman.

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan hati supaya kami tergerak untuk menawarkan kedalaman hidup. Amin.


JUMAT BIASA XVI B/2
27 Juli 2018

Yer 3,14-17
Mat 13,18-23

Jumat Biasa XVI A/1 2017: Bener Pinter
Jumat Biasa XVI B/1 2015: Good Boy, Good Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s