Tengkar tapi Rukun

Ada orang-orang yang tak bisa atau susah sekali hidup dalam perbedaan. Barangkali karena tendensi orang yang berusaha melakukan kebenaran menganggap dirinya lebih benar daripada yang lain. Orang ingin menjadi hakim bukan atas diri sendiri melainkan atas diri orang lain. Celakanya, penghakiman itu bisa jadi ngawur karena tak membedakan antara pribadi secara keseluruhan dan perilakunya.

Perumpamaan dalam teks bacaan hari ini berlatar belakang sejarah isolasi bangsa Israel yang mengideologikan kemurnian hidup beragama mereka. Mereka melakukan suatu distinction di tengah-tengah bangsa lain, mesti tampil beda dari yang lain. Lebih dari itu, dengan ideologi kemurnian hidup beragama itu mereka mengklaim bahwa Tuhan menghendaki kehancuran orang-orang yang tidak menghidupi kemurnian beragama seperti mereka. Tak mengherankan, mereka begitu benci terhadap orang kafir dan getol hendak memberantasnya.

Guru dari Nazareth menawarkan sesuatu yang berbeda dari cara pikir mereka meskipun sama-sama mengidealisasikan kemurnian hidup beragama. Tak ada toleransi terhadap dosa, begitulah kiranya disepakati bangsa Israel dan guru dari Nazareth itu. Akan tetapi, bangsa Israel waktu itu mereduksi kualitas hidup orang dengan kualitas perilaku yang sesuai dengan hukum. Alhasil, mereka tak bisa membedakan antara dosa dan pendosanya.

Dosa memang tak perlu diberi toleransi, tetapi pendosa masih bisa diberi toleransi supaya bertobat. Artinya, ini bukan soal memberi toleransi terhadap orang untuk berdosa, melainkan untuk bertobat. Itulah yang hendak dipersaksikan oleh guru dari Nazareth: mengundang supaya dalam hidup ini orang menjadi hakim atas dirinya sendiri dan bertobat karenanya, bukan menjadi hakim atas orang lain dan memberantasnya.

Hanjuk lembaga pengadilan gimanagak laku dong, Mo? Lha ya tetap lakulah karena perilaku sosial mesti disinkronkan dengan konsensus sosial. Meskipun demikian, konsensus ini kan bersifat sosial, ada dalam matra horisontal, bersangkutan dengan perilaku sosial. Yang disinggung guru dari Nazareth adalah kualitas pribadi secara keseluruhan di hadapan Allah. Dalam konteks itu, tak seorang pun berhak menyingkirkan ‘ilalang’ justru karena berpotensi meniadakan kehidupan ‘gandum’-nya. 

Memang tidak mudah, tetapi begitulah semestinya. Kata senior saya kemarin: boleh bertengkar tapi mesti tetap rukun. Wah, berat. Pengandaiannya, orang punya keutamaan pengampunan selain kemampuan membedakan pendosa dari dosanya. Andai saja Anda punya kesempatan menonton film Longford, silakan menontonnya.

Ya Allah, mohon rahmat kelapangan hati supaya kami dapat hidup dalam kekayaan kebinekaan, terutama untuk mengampuni mereka yang melakukan kejahatan terhadap kami. Amin.


SABTU BIASA XVI B/2
28 Juli 2018

Yer 7,1-11
Mat 13,24-30

Sabtu Biasa XVI C/2 2016: Menabur Benih Menuai Badai?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s