Cinta Pasaran

Ada kalanya orang mengatakan ‘tidak bisa’ alih-alih secara jujur mengatakan ‘tidak mau’, apapun alasannya. Biasanya, keterbatasan waktu jadi kambing hitam,”Saya mau bantu, tapi tak punya waktu.” Oke deh, tak usah bahas pengambinghitaman itu. Mari lihat bagaimana teks bacaan hari ini bisa berbunyi bagi dunia hidup orang zaman now. Ceritanya sederhana. Guru dari Nazareth melihat orang banyak yang lapar dan meminta murid-muridnya supaya memberi mereka makan. Lima roti dan dua ikan lalu jadi makanan yang terdonasikan, termultiplikasi bagi sekian ribu orang. Tak perlu juga meributkan apakah betul kejadiannya begitu atau tidak. Ini Kitab Suci, bukan risalah sejarah.

Yang utama dalam membaca teks seperti ini ialah bagaimana membuatnya inspiratif untuk pembaca sekarang ini. Salah satu yang bisa saya tawarkan di sini ialah refleksi bahwa orang beriman, sebagaimana Allahnya, tak pertama-tama berpikir dengan frame kuantitatif, melainkan kualitatif. Berkenaan dengan waktu, misalnya, orang beriman yang tercerahkan omong soal waktu kualitatif (kairos) daripada kuantitatif (kronos). Contohnya ada pada posting Tunggu Gak Pake’ Lama. Dalam kerangka pikir seperti ini, orang beriman tidak memberikan sesuatu dari sekian banyak yang dimilikinya, melainkan memberikan keseluruhan dirinya, memberikan segala-galanya.

Lah, apa mungkin Mo memberikan segala-galanya? Dalam paradigma kuantitatif tadi, ya tidak mungkin. Bahkan biarawan yang berkaul memberikan seluruh dirinya, tak mungkin memberikan segala-galanya. Ia mesti makan, minum, tidur, dan sebagainya. Jadi, tak mungkinlah ia memberikan totalitas dirinya. Orang Kristen bahkan merumuskan bagaimana Allah ‘memberikan Putera-Nya’ sebagai konsekuensi paham Allah Tritunggal. Akan tetapi, sebetulnya Allah memberikan Diri-Nya sendiri secara total kepada dunia (melalui guru dari Nazareth, para nabi, rasul dan lain-lainnya), dan memang begitulah cinta: ia memberikan segalanya.

Segera perlu dicatat bahwa ini adalah ungkapan kualitatif. Barangkali paling gampang dimengerti dari perspektif cinta. Cinta adalah soal relasi pribadi (bukan privat!); orang tak bisa memberikan cinta sebagian-sebagian, seakan-akan cinta itu bisa dikalkulasi proses jual beli di pasar.

Guru dari Nazareth memberi contoh bagaimana memberikan diri secara total. Ia jelas tak punya waktu untuk orang sebanyak itu. Tak seorang pun bisa memperpanjang atau mempersingkat waktu. Itu basa-basi nonsense yang biasanya disampaikan MC. Waktu sudah ada di sana bergandengan dengan ruang tempat orang berada. Maka, kalau memang mau pergi, pergi aja toh, gampang, tak perlu membawa beban berat dengan klaim “Sebenarnya aku mau bantu, tapi gak bisa karena harus pergi.”

Problemnya tidak terletak pada waktu yang memenjarakan orang, tetapi pada totalitas orang yang mencinta. Orang tak bisa mencinta setengah-setengah atau tawar-menawar. Maka, bahkan meskipun orang cuma ‘punya waktu’ satu menit, ia total dalam satu menit itu sehingga selepas satu menit itu ia tak terbebani dengan rasa bersalah yang tak perlu. Bukankah yang diberikan orang adalah pribadinya dan bukannya waktu ‘satu menit’ tadi? Tak ada gunanya orang memberikan ‘banyak waktu’ tetapi cintanya pasaran, politis, tak tulus, berpamrih, dan sejenisnya.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu mencinta secara total, bukannya menghidupi cinta pasaran beruntung rugi. Amin.


MINGGU BIASA XVII B/2
29 Juli 2018

2Raj 4,42-44
Ef 4,1-6
Yoh 6,1-15

Posting 2015: Pasukan Nasi Bungkus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s