Jahatnya Copy-Paste

Kalau dalam refleksi beberapa hari lalu saya sodorkan tendensi orang yang menghakimi orang lain berdasarkan kacamatanya sendiri, teks bacaan hari ini menunjukkan hal sebaliknya. Mereka yang punya ‘bisnis’ merealisasikan kebaikan bersama perlu mengingat bahwa kerajaan kebaikan itu adalah kenyataan yang ‘kecil’, ‘tak penting’, atau ‘sederhana’, tetapi bukan kenyataan yang stagnan atau mati. Ia hidup, bertumbuh, berkembang. Begitu juga kerajaan ‘kejahatan’ sih. Baik yang jahat maupun yang baik itu tumbuh dan berkembang.

Hanya saja, saya tak yakin bahwa kerajaan kebaikan itu berkembang dengan model seperti kerajaan kejahatan. Dugaan saya, kerajaan kejahatan itu berkembang dengan modal duplikasi copy-paste. Kerajaan kebaikan tidak bekerja dengan model copy-paste itu, sebagaimana ragi tidak bekerja untuk membuat adonan, singkong atau ketan menjadi ragi. Maka dari itu, orang beriman juga tidak hidup untuk membuat orang lain beriman persis sebagaimana dia beriman. Aneh, bukan? Setiap orang unik dan iman bersifat personal, mosok mentang-mentang agamanya sama, njuk orang mesti beriman dengan cara yang sama?

Tentu mesti ada hal yang sama, misalnya dalam hal ritual atau kebiasaan bersama, tetapi itu pun tidak bisa diberlakukan sedetil-detilnya. Saya tak akan masuk lebih jauh ke ranah itu (sudah bosan soalnya, haaaaa). Yang penting, karena saya sedang berkeliling mengunjungi kelompok mahasiswa yang sedang menjalani program semacam KKN, para pejuang iman perlu berpegang teguh bahwa mereka bukan siapa-siapa di hadapan Allah, tak lebih dari ikat pinggang yang bisa lapuk sebagaimana ditunjukkan dalam bacaan pertama. Maka, tak perlu congkak seakan-akan dirinya menjadi model bagi umat beriman lainnya yang tinggal copy-paste apa yang dibuatnya.

Di situlah letak kabar gembiranya dan saya khawatir bahwa tak banyak orang melihat kabar gembira ini: tugas orang beriman bukanlah pertama-tama membuat orang lainnya beriman. Pun kalau kabar gembira ini keliru (alias tugas orang beriman memang menjadikan sebanyak mungkin orang lainnya beriman), jalan untuk membuat orang lain beriman ialah justru dengan sendirinya menghidupi iman setotal-totalnya, dan membiarkan orang lain mengambil keputusan bagi hidupnya sendiri: mau beriman dengan cara ini atau cara itu. Kenapa? Karena pada dasarnya iman terbangun dari relasi personal dengan pribadi yang diimani, bukan dengan badut-badut politik atau generasi selfie yang gemar kosmetik lebih daripada ketulusan.

Tuhan, mohon rahmat supaya hidup kami boleh jadi ragi bagi kehidupan yang lebih luas. Amin.


SENIN BIASA XVII B/2
30 Juli 2018

Yer 13,1-11
Mat 13,31-35

Senin Biasa XVII A/1 2017: Ilmu Melintir
Senin Biasa XVII B/1 2015: Kecil-kecil Cabe Rawit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s