Asimilasi Apa

Ini curcol: dulu ketika masih jadi anak zaman now (ya zaman nownya dulu), pernah gemes kepada seorang ahli yang tidak mau menjawab pertanyaan saya, padahal pertanyaan itu penting sekali untuk saya maupun untuk dunia. Beberapa saat kemudian, saya menjadi malu sendiri karena pertanyaan penting itu rupanya bisa saya jawab cukup dengan membaca tulisannya. Beberapa tahun kemudian bahkan saya merasa tidak begitu pédé kalau bertemu dengan ahli atau pakar tertentu dan saya belum mengetahui tulisan atau kepakarannya. Mengenal orang lain sepertinya juga berarti mengerti gagasan atau kepakaran orang yang bersangkutan, meskipun barangkali bukan gagasan atau kepakarannya itu yang penting.

Teks bacaan hari ini, tulisan Yohanes, biasanya segera diasosiasikan dengan ritual Gereja Katolik yang mengasumsikan Tubuh dan Darah Kristus. Saya tidak hendak menyangkal asosiasi itu (saya uraikan pada posting Tubuh Kristus Kok Dimakan) tetapi kiranya perlu memahami secara biasa-biasa saja supaya tidak jatuh pada anggapan takhayul. Saya juga bukan jenis orang yang suka menyembah-nyembah hosti (itu lho roti gandum putih pipih bundar tawar) yang diangkat imam saat perayaan Ekaristi, lha wong ya cetha yang pantas disembah cuma Tuhan Allah. Selain Tuhan Allah itu, ya boleh saja memberi penghormatan tetapi cara saya menghormatinya bukan dengan telapak tangan di samping pelipis atau membungkuk-bungkuk.

Saya memandangnya saja dan pada saat itu saya bersyukur dan berdoa supaya saya diberi rahmat kekuatan untuk semakin meneladan Pribadi yang hadir dalam wujud roti pipih tawar tadi. Sesederhana itu. Sesederhana saya berusaha mengenal, mengerti, mencintai orang lain lewat solidaritas dengannya: mengenal pandangan hidupnya, mengenal perjuangannya, mengerti misi baiknya, dan bahkan terlibat dalam gerakannya. Saya kira, itulah makna dari makan dan minum tubuh dan darah guru dari Nazareth, tak mungkin jadi kanibalisme (ha kok lé bodo mên punya anggapan begitu, padahal sudah disarankan bacaan pertama: buanglah kebodohan…ikutilah jalan pengertian).

Cara gampang memahaminya ya lewat kacamata ahli atau pakar tadi, atau barangkali lebih tepat lagi penulis. Kebahagiaan penulis, sekurang-kurangnya menurut saya, pertama-tama ialah bahwa tulisannya dibaca orang, karena memang untuk itulah ia membuat tulisan: supaya dibaca orang, termasuk kalau orang itu hanyalah dirinya sendiri! Kalau karena tulisan itu ia dapat duit, mungkin loh, lebih membahagiakan lagi. Kalau saya, yang lebih membahagiakan lagi kalau dari tulisan itu pembaca bisa memetik sesuatu yang berguna bagi hidupnya, bahkan meskipun yang dipetiknya bukan dari tulisan saya sama sekali. Itu sudah lebih membahagiakan, apalagi kalau pembaca masuk dalam dunia penulis dan terlibat di dalamnya.

Kalau diterapkan pada guru dari Nazareth, atau guru dari manapun, sebetulnya ya sama saja. Undangan untuk makan dan minum tubuh dan darah si guru dari Nazareth ini adalah undangan untuk mengasimilasi kata, gagasan, pilihan hidup yang disodorkannya. Maka, tak ada gunanya orang mengaku murid guru ini atau itu tetapi hidupnya tak sinkron dengan ajaran dan perjuangan hidup gurunya. Ini berlaku untuk agama juga. Setiap orang beragama mesti bertanya pada dirinya sendiri, ajaran dan hidup macam apa yang diasimilasinya. Ngeri loh kalau peringatan kemerdekaan RI diisi dengan karnaval anak-anak macam begini:

Tuhan, bantulah kami untuk membebaskan diri dari kebodohan dan mengambil jalan pengertian. Amin.


HARI MINGGU BIASA XX B/2
19 Agustus 2018

Ams 9,1-6
Ef 5,15-20
Yoh 6,51-58

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s