Susah Bahagia?

Kiranya semua orang memiliki keretakan atau keterpecahan dalam dirinya, dengan kadar yang berbeda-beda, antara pikiran dan perkataan, antara perkataan dan perbuatan, antara pikiran dan perbuatan, dan seterusnya. Semakin sedikit keretakan atau keterpecahan itu, semakin langgenglah kebahagiaan hidup orang. Pada kenyataannya, relatif tak ada banyak orang yang dapat mengikis keterpecahan itu. Representasinya ada dalam teks bacaan hari ini: orang muda kaya yang jadi gambaran orang pada umumnya, baik yang miskin maupun yang kaya. Ia adalah orang yang akrab dengan aneka aturan tetapi tak mengerti untuk apa semua aturan itu. Ia adalah orang beragama sejak nafas pertamanya (karena ‘diagamakan’ oleh orang tuanya), tetapi tak mengerti untuk apa beragama. “Sejak lahir Katolik, jadi ya itulah mengapa saya Katolik!” Begitulah, seakan-akan agama itu cuma soal kebiasaan yang tak bisa berubah.

Pada orang-orang seperti ini, hal yang sangat buruk bisa terjadi seperti kasus lift hari suci yang saya ceritakan pada posting Ziarah Tak Kunjung Usai. Meskipun demikian, kejelekannya tak perlu semata diukur dengan azas manfaat bagi orang lain, tetapi juga manfaat bagi diri sendiri: kebahagiaan bersyarat, kebahagiaan semu, kebahagiaan yang tak langgeng. Gampang penjelasannya: kebahagiaan itu soal temuan makna, dan jika orang tak tahu tujuan, temuan maknanya tidak utuh. Contohnya ya orang muda kaya dalam bacaan hari ini. Barangkali dia enjoy-enjoy aja mengikuti aturan agamanya, tetapi bahwa pada akhirnya masih mempertanyakan apa yang mesti dibuat untuk mendapatkan kebahagiaan kekal, itu jadi indikasi kuat bahwa enjoy dengan menjalankan perintah agama pun tidak menjamin kebahagiaan kekal.

Trus kenapa guru dari Nazareth itu menghubungkan pertanyaan orang muda kaya itu dengan jalan kesempurnaan dalam memberikan penjualan harta kepada orang miskin ya?
Kiranya Anda ingat situasi penjajahan ganda yang dialami bangsa Israel pada masa itu: secara politis terjajah oleh kekaisaran Romawi dan secara religius terjajah oleh pe(ncari)muka agama mereka sendiri. Tak mengherankan, terjadi disintegrasi dan kebanyakan orang justru jadi eksklusif, membangun kelompok sendiri-sendiri dan karena itu muncul beberapa gerakan seperti Eseni, Farisi dan belakangan kelompok Zelot. Guru dari Nazareth itu juga membentuk kelompok sendiri, tetapi gerakannya berbeda karena sifat inklusif mereka, termasuk orang-orang miskin yang umumnya dikesampingkan oleh kelompok lainnya.

Guru dari Nazareth mengenali kekayaan nilai orang miskin dan bagaimana belajar dari mereka. Ia belajar bahwa eksklusivisme tidak membantu: semakin orang cuma berpikir demi dirinya sendiri belaka, semakin ia membuat chaos. Dengan segala hormat atas apa yang terjadi di Lombok, dulu ketika terjadi gempa di kota tempat saya tinggal, sempat terjadi situasi kacau karena malah terjadi penjarahan terhadap bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Kenapa? Karena setiap kelompok, baik yang membantu maupun yang dibantu, memikirkan kelompoknya sendiri. Tentu semestinya kelompok lebih tinggilah, pemerintah, yang melakukan penataan. Celakanya, pemerintah bisa juga memelihara mentalitas eksklusif tadi, bukan sebagai pelayan, melainkan penguasa.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami tak menutut mata pada penderitaan sesama. Amin.


SENIN BIASA XX B/2
Peringatan Wajib S. Bernardus Abas
20 Agustus 2018

Yeh 24,15-24
Mat 19,16-22

Senin Biasa XX A/1 2017: Terbaik Cuma Satu
Senin Biasa XX C/2 2016: Hukum Membebaskan
Senin Biasa XX A/2 2014: Pernah Jatuh Cinta Gak Sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s