Enjoy Aja Lagi

Ada banyak hal yang tidak mungkin bagi manusia tetapi ternyata mungkin bagi binatang atau tumbuhan, apalagi bagi Tuhan. Tak perlu saya sebutkan satu per satu. Pokoknya, itu salah satu ide yang disodorkan teks hari ini dan bisa dipahami secara biasa, sederhana, dan tak bakal salah: bagi manusia tak mungkin, bagi Allah semuanya mungkin. Yang tampaknya rawan kesalahan ialah pemahaman konteks wacana guru dari Nazareth itu saat ia mengatakan bahwa sukar sekali orang kaya masuk ke dalam kerajaan Surga.

Kesalahan umum yang biasanya terjadi ialah bahwa pernyataan itu diletakkan dalam konteks hidup setelah kematian. Akibatnya, orang bisa punya kecenderungan berpikir bahwa orang kaya itu susah masuk surga setelah kematiannya (ha kok lé mêsakké mên dah susah-susah cari duit, cari pasangan orang berduit, setelah itu malah masuk neraka). Padahal, wacana yang disodorkan si guru itu diletakkan sebagai lanjutan wacana tentang cara memperoleh kebahagiaan kekal dan jawaban akhirnya ialah ‘mengikuti si guru itu’. Dengan kata lain, kebahagiaan kekal adalah soal mengikuti si guru.

Kalau begitu, kesukaran orang kaya masuk ke dalam kerajaan Surga tadi mesti dimengerti secara heuristik (penjelasannya di posting Agama Heuristik ya): bukan bahwa orang kaya susah masuk Surga setelah kematiannya, melainkan orang kaya seperti yang baru saja bertanya pada si guru dari Nazareth itu susah mengikuti si guru itu. Ini juga bukan soal orang susah mengikuti agama tertentu (seakan-akan ada agama yang gampang dan agama yang susah), melainkan susah untuk beriman. Ini berlaku untuk orang zaman old maupun zaman now. Orang butuh seumur hidup untuk belajar beriman. Orang butuh seumur hidup untuk setia, committed, pasrah, sumarah, mendengarkan, taat dan sejenisnya.

Apa sih yang bikin susah? Dalam posting terdahulu diinsinuasikan kelekatan terhadap harta jadi faktor yang mempersulit orang. Meskipun demikian, mengingat pertanyaan salah satu murid si guru dari Nazareth yang mempersoalkan apa ganjaran buat mereka dan juga posting Ortu Instan, mungkin bisa dikatakan bahwa kesulitan lain datang dari nafsu orang untuk segera mendapatkan hasil lebih daripada menikmati prosesnya sendiri. Ini bahkan jadi persoalan dalam pertandingan olah raga. Bisa jadi atlet yang bernafsu mendapat kemenangan poin beruntung mendapatkan poin, tetapi ia dikuasai nafsunya, bukan oleh kematangan fokus teknik dan taktiknya. Bisa jadi malah atlet yang bernafsu itu buyar fokusnya dan teknik dan taktiknya tak berkembang, dan kehilangan poin.

Saya kira, yang fokus pada pengembangan teknik dan taktik bertanding lebih enjoy dengan pertandingan dan kemenangan pun bisa diperoleh karenanya. Begitulah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui: iman memungkinkan orang enjoy dalam hidupnya. Kalau orang tidak enjoy dalam hidupnya, barangkali ia kurang beriman.

Tuhan, tambahkanlah iman kami supaya dapat menikmati keindahan hidup ciptaan-Mu. Amin.


SELASA BIASA XX B/2
Peringatan Wajib S. Paus Pius X
21 Agustus 2018

Yeh 28,1-10
Mat 19,23-30

Selasa Biasa XX A/1 2017: Belajar Bareng nYuk
Selasa Biasa XX C/2 2016: Lagi-lagi Duit
Selasa Biasa XX B/1 2015: Ada Jalan ke Surga untuk Moge?
Selasa Biasa XX A/2 2014: What’s Wrong with Being Rich?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s