Sirik Aja Lu

Kalau Anda ikut antrean dengan aturan main first in first out untuk mendapatkan tiket final suatu pertandingan yang dinantikan oleh banyak orang dan setelah berjam-jam berada di deretan depan antrean ribuan orang aturan mainnya diubah jadi first in last out alias pemberian tiket diberikan kepada mereka yang datang belakangan sehingga Anda tak kebagian tiket, Anda tentunya marah. Anda pantas marah karena aturan main tadi dikacaukan di tengah jalan oleh mereka yang punya wewenang. Saya bisa maklum kalau orang kecewa dan dongkol karena pemilik wewenang itu bertindak sewenang-wenang.

Teks bacaan hari ini menyodorkan perumpamaan mengenai kerajaan Surga yang boleh jadi bikin orang merasa keki dan jengkel meskipun tidak ada kesewenang-wenangan di situ atau sekurang-kurangnya tidak keterlaluan sewenang-wenangnya. Pertanyaan terakhirnya menohok: atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?

Betul. Jangan-jangan orang beragama itu malah iri hari pada Allah yang murah hati kepada semua orang. Jangan-jangan orang beragama itu malah hendak membangun ideologi Allah seturut cara berpikirnya sendiri. Jangan-jangan justru orang beragama menghendaki Allahnya jadi sosok monster yang menghabisi pihak-pihak yang berbeda dan tidak mereka sukai. Jangan-jangan orang beragama itu malah tidak mampu memohonkan hidayah bagi orang lain sehingga jengkel pada sosok Allah nan murah hati yang bisa mengubah aturan main kehidupan kekal.

Dari perumpamaan itu memang tidak ditunjukkan bahwa pekerja senior (barangkali bisa diparalelkan dengan orang yang beragama sejak lama) iri hati terhadap pekerja yunior yang menerima upah sama dengan mereka. Yang ditunjukkan di situ ialah bahwa mereka mengira mendapat bayaran yang lebih besar daripada pekerja yunior. Kalau begitu, jangan-jangan memang persoalannya bukan bahwa mereka iri hati kepada pekerja kemarin sore, orang beragama yang masih kinyis-kinyis, orang yang baru bertobat, dan sebagainya. Jangan-jangan ini soal orang yang merasa diri lebih besar, lebih hebat, lebih suci, lebih benar daripada yang lainnya, termasuk Allah sendiri. Dengan kata lain, jangan-jangan memang dalam diri manusia ada tendensi untuk menganggap diri sebagai Tuhan itu sendiri dan karena dirinya sendiri tak bisa bermurah hati, Allah yang diidealkannya juga bukanlah Allah yang murah hati.

Murah hati bukan soal nyah nyoh, bagi duit sana sini, berkeliling membagikan makanan dan sebagainya. Kalau begitu, yang gak punya duit atau kéré seperti saya ini gak mungkin bisa murah hati dong! Gak lucu kan kalau kebaikan-kebaikan ilahi itu dimonopoli oleh orang berduit? Kemurahan hati adalah soal disposisi hati untuk membiarkan atau melibatkan diri supaya kebaikan Allah bersinar bagi semua orang sebagaimana hujan diturunkan baik bagi orang jahat maupun orang benar. Fokusnya pada kebaikan Allah, bukan pada kebaikanku, kebaikan agamaku, kebaikan keluargaku, dan seterusnya. Kalau gagal fokus di sini, orang cuma bisa sirik.

Tuhan, jadikanlah aku murah hati sebagaimana Engkau sendiri murah hati. Amin.


RABU BIASA XX B/2
Peringatan Wajib St. Perawan Maria, Ratu
22 Agustus 2018

Yeh 34,1-11
Mat 20,1-16a

Rabu Biasa XX A/1 2017: Ayo Ngguyu
Rabu Biasa XX B/1 2015: Apa Upahnya Kerja
Rabu Biasa XX A/2 2014: Just Do What You Do!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s