Ikut Pesta, Ikut nJoged

Gempa di Lombok atau di permukaan bumi lainnya menunjukkan sekurang-kurangnya kepada saya bahwa manusia tak bisa sepenuhnya mengobjekkan, menguasai alam. Kalau dalam relasi sosial manusia mampu membuat kontrak dengan manusia lainnya berdasarkan relasi kuasa antarmanusia, dengan alam kontrak itu bersifat searah. Relasi dengan alam malah bisa menggambarkan relasi manusia dengan penguasa semesta sendiri: cuma ada relasi ketaatan atau pembangkangan. Maksud saya, Allah penguasa semesta itu sudah menentukan bagaimana alam semesta berjalan dan manusia tinggal masuk di dalamnya. Kalau dia ikut aturan main Allah itu, selamatlah ia, kalau tidak, tahu sendiri akibatnya.

Teks bacaan hari ini mengingatkan sifat undangan Allah kepada manusia. Namanya undangan, ya terserah yang diundang dong mau datang atau enggak. Meskipun Allah menyatakan aturan main untuk masuk dalam relasi hidup dan berkat-Nya, manusia tetap bisa menerima atau menolaknya. Kalau ia menolaknya, relasi dengan kehidupan itu terinterupsi atau bahkan mati dan orang bisa saja mati dalam keadaan tanpa Tuhan Allahnya. Kalau ia menerima aturan main itu, bagaimanapun mau dirumuskan, orang masuk dalam dinamika ketaatan. Bukan Allah yang mesti taat, melainkan manusia.

Akan tetapi, sebagaimana sudah diuraikan di blog ini (yang saya tak ingat lagi pada posting apa), modernisme perlahan-lahan mengubah posisi itu. Manusia ingin jadi subjek yang bisa mendikte Allah dan sekularisasi sangat potensial mendepak Allah dari sejarah. Manusia menanamkan dalam dirinya tekad untuk merealisasikan apa yang diinginkannya, termasuk keselamatan yang dijanjikan Allah itu, yang direduksinya sebagai hasil usaha manusia belaka dalam membuat rekayasa, mulai dari genetika sampai sosial. Relasi pun kehilangan maknanya dan relatif tak sedikit orang yang kehilangan kualitas relasi dengan orang lainnya justru karena relasi dengan Allah itu juga cuma rekayasa kuasa.

Ini curcol keprihatinan. Sewaktu ziarah kali lalu, seorang teman imam bertugas memimpin perayaan Ekaristi di suatu situs sejarah. Teman ini sebetulnya kreatif, hendak memakai roti gandum tak beragi yang biasa dipakai orang Israel. Ini untuk lingkungan terbatas dan perayaan khusus. Akan tetapi, perayaan dimulai terlambat karena rupanya ada problem dengan tuan rumah yang bertugas mempersiapkan aneka perlengkapan untuk Ekaristi itu. Ia tidak memperbolehkan teman imam saya ini memakai roti yang disiapkannya. Yang membuat saya prihatin bukan bahwa teman imam ini tidak diperbolehkan memakai roti yang dibawanya, melainkan bahwa cara melarangnya itu memakai pertanyaan keji nan hegemonik: “Kamu itu imam Katolik atau bukan?”

Sebetulnya kan cukup disodorkan alasan mengapa tidak boleh, bukannya malah mereduksi kekatolikan sebagai urusan roti gandum, seakan-akan kalau perayaan Ekaristinya tidak memakai hosti standar bikinan pabrik A jadi tidak sah dan kalau tidak sah berarti bukan Katolik! Yo’olo, yang menentukan teman imam saya Katolik atau bukan itu siapa ya dan apa sih tolok ukurnya? Tapi sudahlah, memang begitu itu jadinya kalau relasi dengan Allah dijadikan rekayasa kuasa, cenderung mengeksklusi yang berbeda. Memang undangan untuk inklusif itu minim tanggapan, meskipun banyak yang diundang.

Semoga semua umat beriman dapat memandang yang lain sebagai saudara seperjalanan untuk berjalan bersama Allah yang sama. Amin.


Kamis Biasa XX B/2
23 Agustus 2018

Yeh 36,23-28
Mat 22,1-14

Kamis Biasa XX C/2 2016: Life’s A Banquet
Kamis Biasa XX B/1 2015: Jangan Main-main dengan Mantilla

Kamis Biasa XX A/2 2014: Ayo Pesta…(atau Perang?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s