Murid Belagu

Memang sentimen kota asal itu kadang membuat penilaian terhadap orang jadi sangat bias. Saya lupa apakah pernah saya ceritakan di sini. Sebelum kuliah yang zaman angkatan Dilan dulu, ada kawan yang rupanya selama tiga tahun memendam ketidaksukaannya kepada saya semata karena saya berasal dari ibu kota (meskipun lahirnya di ibu dusun). Murid tempat saya bersekolah memang berasal dari segala penjuru pulau, tetapi mayoritas berasal dari pedesaan. Saya terhitung sebagai murid dari ibu kota.

Saya benar-benar tidak tahu mengapa teman saya ini seperti bersikap aneh terhadap saya sebelum di tahun terakhir dia menyatakan secara jujur dalam sebuah pertemuan empat mata. Katanya, dia tidak suka karena saya berasal dari ibu kota dan anak-anak ibu kota itu di matanya identik dengan kesombongan, arogansi, belagu, mau menang sendiri, dan seterusnya. Waktu itu saya mendengar secara seksama pesan yang hendak disampaikannya dan meluncur dari mulutnya bahwa dia minta maaf karena salah menilai saya berdasarkan imajinya mengenai anak-anak ibu kota. Padahal, sebetulnya memang saya belagu, hahaha…

Saya baru ngeh selepas ziarah kemarin bahwa Natanael yang dirayakan hari ini memang berasal dari kota yang lebih besar dari Nazareth. Bisa jadi memang dia mempertanyakan apa yang bisa diandalkan dari Nazareth, tetapi sekaligus tahu dari mana Mesias datang, dan karenanya ia mengalami keraguan. Syukurlah, dalam keraguannya itu ia tetap mengikuti temannya untuk menjumpai sosok guru dari Nazareth dan ndelalahnya, guru dari Nazareth itu malah menunjukkan ketulusan Natanael, sosok yang tanpa kepalsuan. 

Jadi, sekurang-kurangnya ada dua hal yang bisa saya petik hari ini. Teman saya dan Natanael ini begitu jujur pada dirinya sendiri dan tidak menyembunyikan kesan dalam dirinya untuk cross-check terhadap penilaian dirinya sendiri. Keraguan tidak membuatnya nggugu karêpé dhéwé tetapi tetap mengikuti jalur yang bisa membantunya menemukan kebenaran, dalam hal ini, ia menaruh kepercayaan kepada temannya untuk mengikuti guru dari Nazareth. Sementara guru dari Nazareth menggarisbawahi kualitas positif Natanael itu di tengah-tengah pandangan negatifnya terhadap orang-orang Nazareth. Melihat hal positif dari tengah-tengah hal negatif tidak bisa diandaikan begitu saja. Natanael ragu-ragu tetapi dalam proses melihat hal baik. Guru dari Nazareth menunjukkan arah proses yang dialami Natanael, murid yang tak belagu itu.

Tuhan, mohon rahmat untuk menjadi jujur dan tetap berupaya menemukan kebenaran-Mu dalam perjumpaan kami dengan sesama. Amin.


PERINGATAN WAJIB S. BARTOLOMEUS RASUL
(Jumat Biasa XX B/2)
24 Agustus 2018

Why 21,9b-14
Yoh 1,45-51

Posting 2017: Mari Sepedaan
Posting 2016: Santo Pandir?
Posting 2015: Mau Bikin Menara Babel?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s