Guru KW

Di dunia daring beredar beberapa klip video amatir yang mempresentasikan berbagai guru berkualitas KW sebagai sindiran atau parodi. Blog ini tidak akan menambahinya, daripada malah menepuk air di dulang tepercik air sebelanga #ehgimanasihbunyinya. Ya enggaklah, Romo kan bukan guru, tak perlu takut tepercik muka sendiri, eaaa…. jelek-jelek gini saya juga guru je, tapi sudah terkena larangan mengajar.

Sudah jamak dimengerti bahwa guru KW tidak menghidupi apa yang diajarkan atau dikatakannya sendiri. Hari ini saya melihat sesuatu yang lain: guru menjadi KW ketika ia jadi narsis. Sik sik sik, saya tidak hendak menyindir guru yang suka selfie atau wefie bersama murid atau tetangga. Narsis di sini saya maksudkan sebagai orientasi dasar mencari kepentingan diri semata. Kepentingan diri ya jelas penting, tetapi kalau itu yang melulu jadi orientasi dasar, seluruh proyek besar pengabdian runtuh.

Menyambung posting kemarin (Murid Belagu), guru wagu alias KW mestilah tidak memiliki ketulusan alias merupakan juga murid belagu. Sebagai guru, semestinya ia bekerja demi kemuliaan Tuhan dalam pengabdiannya kepada sesama, tetapi pada kenyataannya ia bekerja demi kemuliaan dirinya sendiri (jadi ingat ungkapan ad maiorem diri gue). Apakah ini menunjuk pada mereka yang mendidik demi mencari sesuap nasi? Tentu bukan, karena, pertama, kalau begitu, semua yang berprofesi sebagai guru jadi KW. Kedua, ‘sesuap nasi’ bukan satu-satunya tolok ukur narsisisme.

Kata tetangga saya, kalau seorang murid mesti bekerja demi kemuliaan Allah, ia takkan pernah melakukannya demi kepentingan khusus dirinya, baik material maupun mental. Artinya, ini bukan soal menjadi guru semata demi peningkatan ekonomi sendiri (tur apa bisa ya? Ya bisalah, Mo), melainkan bahkan demi kepuasan batin sendiri. Guru KW mencari selamat sendiri, mencari kepuasan batin sendiri, bisa jadi dengan membuat murid-muridnya menderita. Guru yang bukan KW semestinya mencari kepuasan batin sendiri maupun murid-muridnya, kepuasan batin yang mesti dievaluasi bersama. Gak lucu kan kalau guru puas tapi muridnya trauma? Rasanya juga bikin gemes kalau guru mencari kepuasan rohani sendiri tapi murid-muridnya ancur, kelaparan, hidup amburadul.

Guru sejati mengajar dengan integritas hidupnya, hal yang rupanya tidak didapati dalam diri ahli Kitab dan orang Farisi yang disinggung dalam teks bacaan hari ini. Orang beriman perlu waspada terhadap guru KW begini dan menggembleng dirinya sendiri supaya jadi guru sejati.

Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk menyelaraskan hidup kami dengan Sabda-Mu dalam hati kami. Amin.


SABTU BIASA XX B/2
25 Agustus 2018

Yeh 43,1-7
Mat 23,1-12

Sabtu Biasa XX A/1 2017: Guru Kok Libur
Sabtu Biasa XX C/2 2016: Sikat-sikatan
Sabtu Biasa XX B/1 2015: Bahayanya Seragam

Sabtu Biasa XX A/2 2014: Gajah Diblangkonin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s