Guru Kok Libur

Guru macam manakah yang sangat amat menjijikkan sekali banget? Yaitu guru yang dalam istilah bahasa Jawa tak memenuhi kualifikasi untuk digugu dan ditiru, karena guru memang sosok yang bisa dipercaya dan diteladani. Omongan guru mesti bisa dipegang dan bahkan perilakunya bisa juga ditiru. Setiap orang memang punya inkonsistensinya sendiri-sendiri, tetapi kalau inkonsistensi itu menerpa seorang guru, mau jadi apa karakter bangsa ini? Banyak problem masyarakat muncul karena ketidaktersediaan guru yang sungguh-sungguh guru, yang bekerja lebih dari sekadar mencari nafkah, yaitu mereka yang tulus hendak membangun karakter anak bangsa ini. Kenapa guru macam itu tak tersedia? Oh… gak usah dibahas di sinilah…

Saya cuma mau bilang bahwa kalau inkonsistensi itu dihidupi oleh orang yang punya posisi dan kuasa, akibatnya mesti menjadi skandal bahkan terhadap orang yang paling lemah. Anda mungkin pernah lihat video anak kecil yang minta korek api untuk menyalakan rokoknya kepada orang-orang dewasa yang merokok. Apa jawaban orang-orang dewasa itu? Mereka menegurnya, tidak memberikan korek apinya, memarahinya, menasihatinya. Tapi kita tentu saja menertawakan nasihat macam itu karena tak ada isinya selain eksklusivisme: biar aku aja yang ngrokok, biar aku aja yang menderita, kamu jangan. Lha kok isa? Tentu saja, itu hanya ungkapan dari dalam diri orang yang sebetulnya mengalami pergulatan dalam dirinya: kalau yang saya jalani ini baik, mengapa saya mesti melarang orang lain untuk menghidupinya?

Kualitas guru yang ditonjolkan Yesus berlawanan dengan eksklusivisme macam itu: aku menderita, maka kamu pun kalau ikut aku ya pasti menderita! Dia tidak kok jadi sok simpatik: aku gak ingin liat kamu menderita. Hueksss….

Apakah itu adalah mekanisme untuk cari teman dalam penderitaan? Tentu bukan, dia mati ya mati sendiri kok, gak nggeret siapa-siapa. Dia cuma menunjukkan “begini loh kalau kamu mengikuti nilai yang kusodorkan kepadamu”. Keputusan akhir tetap ada pada si murid. Tugas guru ‘hanya’ menghidupi nilai yang hendak ditularkannya kepada para murid. Maka akan jadi ironis halnya kalau guru mengajar dengan kekerasan, dengan paksaan, apalagi kalau yang dipaksakannya itu bertentangan dengan yang dihidupinya sendiri. Ancur ya ancur dah.

Guru yang baik justru menjadi pelayan bagi murid-muridnya tetapi bukan dalam arti langsung (mengambilkan bolpoin murid yang jatuh atau mengantar jemput murid yang tak punya kendaraan; itu bisa saja, tetapi gak ada urusannya dengan guru atau bukan guru). Guru melayani murid dalam menerjemahkan nilai-nilai kehidupan dalam sabda dan perilakunya yang tulus. Guru macam begini tidak eksklusif sebagai profesi, tetapi merupakan karakter yang bisa melekat pada diri siapapun (dan gak kenal liburan).

Bisa dibayangkan bukan apa jadinya kalau seorang presiden menempatkan dirinya sebagai penguasa (yang tak bekerja selain membuat syair keprihatinan yang gak jelas) dan apa jadinya jika presiden yang de facto punya kuasa itu menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat? Keduanya bisa prihatin, tetapi yang sungguh bekerja adalah yang berparadigma pelayan publik, bukan penguasa. Yang berparadigma pelayan menerima kekuasaannya sungguh sebagai amanat dari masyarakat, bahkan dari Tuhannya.

Ya Allah, mohon rahmat ketulusan hati. Amin.


HARI SABTU BIASA XX A/1
26 Agustus 2017

Rut 2,1-3.8-11;4,13-17
Mat 23,1-12

Sabtu Biasa XX C/2 2016: Sikat-sikatan
Sabtu Biasa XX B/1 2015: Bahayanya Seragam 
Sabtu Biasa XX A/2 2014: Gajah Diblangkonin…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s