Saracen Kekasihku Berkhianat

Sebetulnya saya sudah lama pernah tahu apa yang disebut saracen, tetapi baru ngeh ketika menonton film Kingdom of Heaven. Saracen adalah sebutan dunia Kristiani terhadap orang Arab atau Islam pada masa seputar Perang Salib itu. Hal yang menarik saya dalam film itu sudah saya bahas pada posting Rebutan Mainan. Berita akhir-akhir ini justru mengingatkan saya pada film itu dan seakan-akan saya dibawa kepada alam Perang Salib: orang-orang Islam dan Kristiani saling menghancurkan.

Saya tidak tahu mengapa nama saracen itu dimunculkan kembali di Indonesia ini. Dengan common sense saja dapat ditengarai ada kepentingan untuk memecah belah bangsa majemuk yang bernegara kesatuan ini dan wajarlah kalau Presiden Jokowi menyebut hal ini sebagai sesuatu yang mengerikan. Mengerikannya memang tidak sampai pada bayangan keadaan seperti Marawi belakangan ini meskipun kemungkinan untuk itu bukannya tidak ada, tetapi bahkan memecah belah dalam pikiran saja sudah sesuatu yang mengerikan. Memang, merayakan perbedaan bukanlah suatu pilihan yang jadi tendensi orang beragama dan itu mengapa tak sedikit orang berpikiran untuk meniadakan agama saja karena malah jadi sumber masalah.

Tentu saja logika pemikiran itu tak meyakinkan. Saya ingat nasihat Gus Dur merujuk pada logika lainnya: kalau tembokmu kotor, ya bersihkan kotorannya itu, jangan merobohkan temboknya. Tentu bukan maksud saya mengkritik Gus Dur (ngapain juga ngritik Gus Dur), tetapi sekadar bertanya: mengapa pilihan imajinya tembok, bukannya jembatan? Saya rasa alasannya ya gak repot; beliau pasti melihat banyak coretan pada tembok rumah di sana-sini. Lha mosok sudah mahal-mahal bikin tembok rumah njuk karena ada coretan gak jelas lalu merobohkan tembok itu? De facto, agama memang tembok yang membedakan satu dari yang lainnya. Itu mengapa saya lebih suka pilihan imaji jembatan: kalau jembatanmu penuh coretan dan semak liar, ya bersihkan saja, jangan merobohkan jembatan itu!

Kalau betul kelompok saracen ini mempromosikan berita-berita hoax, itu berarti saracen memang sedang menghidupkan aura Perang Salib dan itu jelas-jelas merupakan pengkhianatan misi agama sendiri, dan saya tak perlu bertanya apakah saracen ini kelompok Islam atau Nasrani: ini adalah kelompok yang jadi budak duit, budak mamon, yang tak kenal agama. Saya sebagai orang Katolik sama sekali tidak senang bahwa Islam difitnah karena itulah agama yang dipeluk keluarga besar saya, sesama saya. Hal serupa juga berlaku bagi agama lain karena fitnah sendiri pada dasarnya sudah merupakan bentuk khianat. Saracen bukan cuma mengkhianati agama, melainkan juga mengkhianati relasi erat antara cinta kepada sesama dan cinta kepada Allah, yang jadi cantolan bagi segala jenis hukum di dunia ini, termasuk hukum agama.

Saracen yang semestinya memantik kesadaran akan penyerahan diri kepada Allah ternyata muncul lagi dengan bahaya divide et impera. Mau menuntut kelompok ini, bukan wewenang saya juga; wis ben diurus oleh yang berwajib. Mari memperlengkapi diri dengan memperkokoh jembatan supaya cinta kita kepada sesama tetap terhubung dengan cinta sejati ilahi dan NKRI jadi lahan subur bagi orang-orang beriman dengan aneka ragam agama.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami tak pernah mengkhianati cinta-Mu. Amin.


HARI JUMAT BIASA XX A/1
25 Agustus 2017

Rut 1,1.3-6.14b-16.22
Mat 22,34-40

Jumat Biasa XX C/2 2016: Hadiah
Jumat Biasa XX B/1 2015: Apa Sih Yang Kamu Cari, Cin?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s