Jalan Slamet

Guru dari Nazareth tak mendengarkan nasihat eks wagabener karena ia malah blusukan ke tempat-tempat orang najis, edanok! Mau ke Dekapolis di tenggara malah travelling dulu ke utara. Kamu gimana sih gaesgatau dollar naik drastis po? [Padahal bukan dari Rp2.000 ke Rp17.000.] Kurangi travellinglah, for the shake of the country! [Sék3, ini for the shake atau for the sake sih? Kayaknya artinya beda deh.]

Mari lihat teks bacaan hari ini murni sebagai metafora yang dengannya orang bisa belajar sesuatu. Poin pertama, kehadiran guru dari Nazareth mengembalikan kemanusiaan orang-orang yang berada di wilayah najis. Saya kok jadi ingat bagaimana KPK membongkar korupsi berjamaah dalam dewan yang semestinya mengawal penggunaan uang rakyat. Tentu bukan DPR-nya yang najis, melainkan orang-orangnya.

Poin kedua, menurut tetangga saya, kata yang dipakai Markus itu cuma sekali muncul: μογιλάλον (mogilalon), bicara dengan susah payah. Kata ini mesti penting sehingga Markus memakainya. Penting, karena merujuk tulisan Yesaya yang juga jadi jatah bacaan hari ini: mata orang buta dicelikkan, telinga orang tuli dibuka, mulut orang bisu bersorak sorai. Kalau orang tuli terhadap Sabda Allah, ia pun gagap bicara sebagai manusia dan berujung pada wilayah pagan. Guru dari Nazareth hendak mengembalikan situasinya seperti diprediksi Yesaya.

Poin ketiga berkenaan dengan agen kesembuhan orang gagap itu: ada orang lain yang mengomunikasikan keadaan orang gagap itu dan memintakan kesembuhan kepada guru dari Nazareth. Ini fungsi malaikat pelindung atau penjaga. Orang yang sudah mengalami perjumpaan dengan keilahian mengharapkan orang-orang di sekelilingnya juga bisa membuka telinga dan kemanusiaannya dipulihkan, bukan malah njlomprongké orang lain supaya jadi najis. Ini bukan soal supaya orang lain menjadi seperti dirinya, melainkan soal orang lain mendengarkan Sabda Allah (yang dibenamkan dalam hatinya) dan berkata/bertindak seturut Sabda itu.

Poin keempat, lompat ke bagian terakhir [keburu 500 kata], orang menangkap bagaimana yang tuli dijadikan mendengar dan yang bisu dijadikan berkata-kata. Tahap penyembuhannya memang begitu: dibuat mampu mendengar, kemudian orang mampu bicara. Kalau orang tak ma(mp)u mendengar, bagaimana ia bisa bicara untuk berkomunikasi? Oh banyak Mo, sekarang orang tuli sudah diajari supaya bisa bicara dan berkomunikasi dengan membaca gerak mulut orang kok! Itu kan murni lewat penglihatan. Betul, tetapi ini teks Kitab Suci, bukan diktat biologi. Mendengar bukan melulu soal biologi, melainkan soal membuka diri pada Sabda Allah.

Kemarin saya ngobrol-ngobrol dengan para guru agama dan, berkaitan dengan poin kedua tadi, dari situ saya yakin bahwa orang beragama jadi tuli ketika ia mengedepankan kebenaran lebih daripada keselamatan umat manusia. Kalau apa-apa saja diukur dengan benar-salah, setiap orang tentu akan mengatakan yang dipilihnya paling benar. Jadilah ribut. Bahasa orang yang sudah tercerahkan bukan lagi soal kebenaran, melainkan keselamatan, bahkan kesejahteraan (yang sungguh) bersama. Ini berlaku bukan hanya bagi orang beragama loh, melainkan juga bagi mereka yang antiagama: karena berpretensi mau menentukan mana yang benar dan mana yang salah, gak nemu (karena memang tidak ada) sehingga meyakini dirinyalah yang benar, maka: ngapain beragama toh?

Tuhan, mohon rahmat supaya kata-kata yang muncul dari mulut kami menjadi kata-kata yang merangkul semakin banyak orang. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXIII B/2
9 September 2018

Yes 35,4-7a
Yak 2,1-5
Mrk 7,31-37

Posting 2015: Mari Belajar Omong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s