Lahir Melulu’

Anda mungkin pernah mendengar frase ‘lahir kembali’ atau bahkan jadi ‘korban’ dari frase itu. Betul, frase itu diasosiasikan dengan percakapan antara guru dari Nazareth dan Nikodemus, seorang Farisi yang rupanya lain daripada orang Farisi pada umumnya. Ia mau mencari kedalaman dan karenanya ia berbincang-bincang dengan guru dari Nazareth itu dan perbincangannya berpusat pada frase ‘lahir kembali’ itu.

Sayangnya, frase itu lantas diidentikkan sebagai tahap untuk menjadi Kristen. Bahkan, meskipun sudah Kristen pun, orang masih bisa diminta ‘lahir kembali’ supaya menjadi jemaat kelompok Kristen yang lain lagi. Begitu seterusnya. Tahu sendirilah, akhirnya frase itu jadi kehilangan maknanya karena diseret oleh kepentingan kelompok tertentu yang mendapat keuntungan dengan pertambahan jumlah pengikut.

Hari ini Gereja Katolik memestakan kelahiran Bunda Maria, yang tentu saja tak ada orang tahu kapan persisnya beliau lahir. Akan tetapi, justru karena tiadanya data kelahirannya itulah orang malah bisa belajar sesuatu mengenai kelahiran dan kelahiran kembali, tanpa tersekat oleh aneka dogma yang dibuat Gereja Katolik misalnya. Dogma ini mestilah omong soal yang baik-baik dan indah-indah mengenai Bunda Maria. Saya tidak hendak mengatakan bahwa dogma Gereja Katolik itu salah dan tak tepercaya, tetapi menerima dogma dengan kacamata kuda tak banyak berguna selain untuk mempertahankan jumlah jemaat yang menghayati cinta buta.

Seluruh atribut terhadap Bunda Maria baru ada artinya kalau atribut itu dimengerti sebagai keseluruhan proses hidupnya, bukan sebagai cap stempel yang diberikan sejak awal dan berlaku sepanjang segala abad. Artinya, Bunda Maria itu juga mengalami dinamika hidup, ada pergerakan, pergumulan dalam batinnya. Bunda Maria mengalami kelahiran kembali dari waktu ke waktu, yaitu pada momen ia memilih keberpihakan kepada Allah dalam pergumulan hidupnya. Itu berarti, ‘lahir kembali’ tak bisa diklaim sebagai ideologi untuk memasukkan orang ke dalam persekutuan jemaat tertentu. Orang bisa lahir kembali tanpa masuk ke dalam aneka grup agama atau sekte atau aliran.

Kemarin dosen saya bercerita mengenai pengalamannya berbicara di depan ratusan jemaat Kristiani. Dosen saya ini muslim dan menyodorkan gagasan mengenai misi guru dari Nazareth menurut perspektif Islam. Mengherankan, ketika ia mengatakan bahwa Yesus membela kaum lemah, ia ditegur oleh pemimpin jemaat, yang hendak mengoreksi dosen saya ini: Yesus itu membela yang benar, bukan yang lemah.
Astaga, gimana sih rasanya membuat koreksi tetapi koreksinya malah keliru?

Di mana kelirunya? Lha wong dosen muslim menyodorkan pengertian dari perspektif muslim kok dibantah dengan perspektif nonmuslim. Belum lagi, menurut saya, juga dalam Injil memang dikatakan bahwa misi guru dari Nazareth itu untuk memberi preferensi pada kaum lemah yang selama itu disingkirkan. Ini bukan soal benar-salah, karena benar-salah sangat bisa dikorupsi atau dikuasai justru oleh kelompok yang kuat. Memestakan kelahiran Santa Maria, dengan demikian, juga berarti merayakan pilihan-pilihan keberpihakan kepada Allah, yang di mana pun dalam Kitab Suci, tak menghendaki aneka penindasan dalam aneka ranahnya.

Ya Allah, mohon rahmat supaya alih-alih melanggengkan penindasan, kami senantiasa lahir kembali untuk terlibat dalam keberpihakan-Mu . Amin.


PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA
(Sabtu Biasa XXII B/2)
8 September 2018

Mi 5,1-4
Mat 1,1-16.18-23

Posting Tahun 2017: Namanya Maria
Posting Tahun 2016: Muter-muter Doang
 
Posting Tahun 2015: Buon Compleanno, Maria

Posting Tahun 2014: The Art of Seeing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s