Agama Usang?

Sekitar dua dekade lalu terbit buku berjudul A History of God, tulisan mantan biarawati Katolik, Karen Armstrong. Empat ratusan halaman bukunya membahas rentang waktu empat ribu tahun pergumulan manusia merumuskan sosok Tuhan dalam tiga tradisi agama (Yudaisme, Kristianitas, Islam). Tahun lalu terbit buku God: A Human History yang ditulis oleh Reza Aslan, yang membahas rentang waktu sejak big bang (sekitar 14 milyar tahun, buset) dalam sekitar dua ratus halaman saja. Reza Aslan ini, menurut penuturannya, adalah seorang muslim yang sempat jadi Kristen, lalu kembali menjadi mualaf, tetapi IMHO, sebetulnya ia tidak jadi mualaf, tetapi masuk ke ranah penghayatan rohani yang bertolak belakang dengan tradisi agama: panteisme. God is everything and everything is God. Begitu klaimnya.

Diam-diam ideologi seperti ini merasuki banyak orang. Kenapa menarik? Karena membuat orang merasa bebas, tak perlu berakar pada tradisi agama manapun, bisa menclok sana menclok sini tapi ya luput terus (wong namanya juga gak berakar). Sudah begitu, orang yang demikian ini bisa jadi menganggap diri lebih benar juga, lebih modern, lebih progresif dalam menghidupi agama, karena semua agama pada dasarnya sama-sama cuma sarana. Sik sik sik, apa memang begitu sih? Saya sangat ragu.

Ini bukan soal progresif atau tradisional, seakan-akan agama itu zaman old dan mesti diganti dengan ideologi panteisme. Kalau memakai istilah teks bacaan hari ini, kebaruannya tidak diukur dari periode waktu kemunculannya, seakan-akan agama muncul lebih dulu, sehingga jadi kantung lama, daripada panteisme. Panteisme tidak akan pernah cocok dengan tradisi agama monoteis. Panteisme jelas kebablasên. Kalau orang berakar baik-baik dalam tradisi agamanya, ia tidak akan lari kepada panteisme, tetapi juga tidak akan jatuh pada radikalisme. Orang beragama akan bergerak menuju kerohanian yang diperkaya oleh tradisi lain. Kan sudah saya bilang dulu bahwa being religious is nowadays always being interreligious, bukannya being pantheist.

Memangnya ada apa dengan panteisme sih Mo? Salahnya tuh di mana? Saya melihat dua hal. Pertama, saya tidak pernah merasa diri saya adalah Tuhan. Betul saya menjadi tuan atas diri saya sendiri, tetapi pada kenyataannya tetap ada hal-hal di luar kendali saya. Artinya, tetap ada ‘yang lain’, dan ‘yang lain’ itu berarti transenden, melampaui diri saya. Panteisme tidak mengakui bahwa Tuhan itu transenden karena klaimnya Tuhan itu segalanya dan segalanya adalah Tuhan. Konsekuensinya, tak ada namanya penciptaan. Tuhan tidak mencipta. Dunia ini ya ada begitu saja bersamaan dengan adanya Tuhan. Ini berseberangan dengan keyakinan agama pada umumnya.

Yang kedua, karena tak ada penciptaan, bisa jadi Big Bang diterima sebagai titik awal kehidupan, sebagai energi besar yang memungkinkan kehidupan sampai sekarang ini. Dalam panteisme, Tuhan direduksi sebagai energi impersonal, bukan sosok yang menjalin relasi dengan ciptaan-Nya. Dua hal itu sudah cukup bagi saya untuk waspada terhadap panteisme yang bisa jadi sekarang ini memikat orang muda untuk menjauh dari tradisi agama (lebih suka dengan kursus-kursus yang memopulerkan energi-energi) tapi tidak juga mendekat pada Allah yang transenden itu.

Tuhan, mohon rahmat untuk bertekun dalam kesulitan menangkap sabda-Mu. Amin.


JUMAT BIASA XXII B/2
7 September 2018

1Kor 4,1-5
Luk 5,33-39

Jumat Biasa XXII C/2 2016: Kangen
Jumat Biasa XXII B/1 2015: Iman Sadis

Jumat Biasa XXII A/2 2014: Tobat Tulus vs Akal Bulus

1 reply

  1. Halo Rom..

    Nderek komen pareng nggih.. hehehe

    ini cerita imajiner saya… pada suatu hari saya mau berbincang tentang agama dan bertemu dengan orang katolik, orang itu berkata “ah kamu sesat, mengabaikan prinsip”,

    trus saya bertemu seorang muslim, dan dia berkata “, lhaaa kalau gitu ini agama yang paling tepat untukmu,

    kemudian sya bertemu pula dengan seorang budha, diapun berkata “,hatimu kelihatan tenang kalau kmu mengikuti aku”,

    entah kenapa sya kemudian bertemu dengan yesus yang juga KRISTUS, Dia berkata, agamaku bukan katolik atau kristen atau juga islam… Aku kan ada sebelum mereka, apakah agamaku Judaism, ….tetapi mereka (ahli Taurat dn orang Yahudi menyalibkanku), lantas apa agama Mu, tanya saya,… dan Dia menjawab agamaku adalah Kasih, yang membuat hidup setiap orang bermakna bila mengikutiku “bonum commune” seperti itulah gambaranya … lantas sya pergi ke gereja… selesai..

    matur nuwun nggih romo .. berkah dalem hehehehheee..

    #agamalageee

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s