Hati yang Luka Akademis

Untuk pertama kalinya kemarin saya mengikuti simposium internasional dengan antusias karena saya mau belajar dari ilmu sosial. Awal dan tengah rangkaian simposiumnya sangat inspiratif, tetapi akhir rangkaiannya membuat hati saya seperti diiris pisau karet. Cobalah seperti apa rasanya hati diiris pisau karet. Akhirnya saya mlipir meninggalkan ruang diskusi bahkan sebelum diskusi dimulai.

Curcol ini dipicu oleh teks yang mengisahkan bagaimana guru dari Nazareth meminta Simon pergi ke tempat yang dasar danaunya lebih dalam. Ini motto yang dipakai almarhum uskup Semarang, duc in altum, dan saya curcol hati yang luka ini justru karena maunya sinkron dengan motto tersebut.
Lha piye to Mo ikut simposium internasional kok malah mengenang lagunya Betharia Sonata, yang saya tahu Romo sendiri gak suka, meskipun bahkan sebagian mahasiswa zaman now malah bisa menyanyikannya?

Saya tidak mengirimkan abstrak artikel untuk dipresentasikan dalam simposium itu meskipun ada kemungkinan bahwa kalau abstraknya diterima, artikelnya bisa dimasukkan ke jurnal internasional, terindeks Scopus (njuk ngopo? Ampuh ngono po?)! Saya memang semata ingin mendengar pergumulan ilmu-ilmu sosial dari para ahlinya. Simposium ditutup dengan presentasi penelitian yang dikumpulkan via iklan Call for Papers. Pada sesi pertama saya masuk ke ruang seminar yang topiknya saya minati, dan pada saat itulah hati saya terluka.

Saya sejujurnya malu dengan atribut internasional. Para nara sumber simposium pada umumnya menyampaikan presentasi yang sangat inspiratif, tetapi presenter untuk seminar setelah simposium itu begitu njomplang, terlalu deskriptif tanpa muatan kritis, padahal ilmu sosial katanya juga adalah ilmu kritis. Bahkan ada ruang seminar lain yang presenternya tidak datang untuk menguraikan hasil penelitian mereka. Mungkin malah lebih baik ya, daripada datang dan jebulnya tidak menguasai penelitian yang dibuatnya sendiri (atau jangan-jangan dibuat orang lain)? Tidak saya dapati professional honesty di situ karena tampak sekali kesan “yang penting kirim abstrak dan artikel” tanpa diimbangi penguasaan materinya sendiri.

Dalam dunia akademis, gelar memang penting sejauh sinkron dengan kepakaran. Sebagian orang, mungkin lebih banyak, lebih menekankan pentingnya gelar daripada kompetensinya. Apakah itu hanya untuk mereka yang berkecimpung dalam dunia akademis? Enggak juga. Justru kebanyakan orang tua yang tak mengerti dunia akademiklah yang menginginkan anaknya kuliah ini itu supaya nanti bisa kerja ini itu. Padahal, kalau output yang diinginkan adalah kerja ini itu, seorang anak benar-benar tidak perlu kuliah. Ia cukup mengasah keterampilan enterpreneurship atau ikut sekolah kejuruan atau akademi seturut minat dan potensinya. Bisa dibayangkan gak sih seseorang yang tidak kuliah dan bekerja di industri besar? Tak usah dibayangkan, memang itu kenyataan.

Tapi apa mau dikata, kalau kultur gengsi, nama baik, nama besar, jadi acuan lebih daripada sebagai konsekuensi kedalaman hidup orang, begitulah jadinya. Orang yang berkecimpung dalam dunia akademik pun perlu belajar dari Simon Petrus yang berlutut mengakui keterbatasannya. Seberapapun batasnya, orang beriman senantiasa diminta pergi ke tempat yang lebih dalam alias menuju kedalaman hidup.

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk jujur pada keterbatasan dan kekuatan kami sendiri. Amin.


KAMIS BIASA XXII B/2
6 September 2018

1Kor 3,18-23
Luk 5,1-11

Kamis Biasa XXII A/1 2017: Panggilan Berbasis Inkompetensi
Kamis Biasa XXII C/2 2016: Hati-Hati Otak-Otak
Kamis Biasa XXII B/1 2015: Baca Kitab Suci? Ngapain?!

Kamis Biasa XXII A/2 2014: Jangan Takabur, Bray!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s