Agama Munafik

Kenapa orang Katolik menyebut Yesus-Maria-Yosef sebagai keluarga kudus? Di mana letak kekudusannya? Apakah pada bentuk tradisionalnya sebagai buah perkawinan yang direstui agama dan masyarakat (dan dengan demikian keluarga yang ancur kehilangan kesuciannya)? Apakah pada kualitas kudus anggota-anggotanya sehingga Yosef suci plus Maria suci sama dengan Yesus suci dan karenanya disebut keluarga kudus?

Saya kira posting tiga tahun lalu (Kitorang Keluarga Allah) memuat jawaban pertanyaan itu sejauh orang tidak membaca narasi teks hari ini sebagai sebuah kronik sejarah. Jika membacanya sebagai narasi kronik begitu orang malah mendapati keganjilan-keganjilan cerita atau pribadi-pribadi yang terlibat di situ. Misalnya, Yesus kecil ditempatkan sebagai anak yang tak tahu diri (tak minta maaf telah merepotkan malah ‘nantang’ orang tuanya.

Singkatnya, teks itu menempatkan tegangan antara tradisi (agama) dan keilahian yang direpresentasikan Yesus sebagai ‘tinggal di Bait Allah’. Apakah tradisi (agama) compatible dengan keilahian? Sepertinya oleh orang kebanyakan dipikirkan begitu: yang namanya agama ya mesti terhubung dengan keilahian. Kalau tidak, apa gunanya agama?

Betul, tetapi pada kenyataannya tradisi agama tidak senantiasa klop dengan keilahian persis karena agama menjauhkan dari ‘tinggal di Bait Allah’ tadi. Seruan Yesus kecil itu dipakai Lukas untuk menunjukkan komitmen ‘tinggal di Bait Allah’ tadi: janganlah kau tarik urusan keilahian itu pada perkara-perkaramu! Kalau mau tarik aku, begitu kata Yesus, tariklah ke urusan-urusan keilahian, bukan ke urusan-urusan yang tampaknya saja ilahi.

Dengan demikian, kembali lagi, ini soal empan papan, soal menguak identitas sebagaimana sudah ‘ditentukan’ Allah (yang penentuannya mesti dirembug baik-baik, melibatkan semua yang terlibat dan terdampak). Begitulah, narasi Lukas menegaskan bahwa kekudusan keluarga Nazareth mengacu pada kualitas koneksi Allah-manusia yang tidak bisa ditarik ke ranah kepentingan politik, sosial, ekonomi, kultur, dan seterusnya. Begitu kualitas Allah-manusia itu dikontaminasi dengan kepentingan politik identitas, kepentingan sosial dan sebagainya itu, kekudusan menguap.

Kualitas koneksi Allah-manusia ini sama sekali bukan perkara mudah. Ini bukan perkara pemisahan agama dari negara (negara sekular), tetapi juga bukan menyeret agama ke matra politik (negara teokratis). Kedua model pendekatan ini mencederai narasi Lukas yang justru menantang tradisi supaya tetap jadi medium kehadiran Allah yang hendak menguduskan ciptaan-Nya, semuanya tanpa terkecuali, termasuk keluarga, baik yang broken maupun yang belum atau tidak broken. Setiap orang dipanggil untuk ‘tinggal di Bait Allah’, di mana orang sungguh-sungguh bersoal jawab mengenai bagaimana cinta Allah itu dapat diwujudkan dalam aneka tegangan kepentingan hidup manusia.

Kalau orang tak menanggapi panggilan itu, bahkan tradisi agama hanya akan melulu jadi wacana sosial-politik-budaya dan dengan demikian agama cuma jadi seolah-olah connect dengan keilahian. Begitulah agama munafik, yang populer ketika menjelang pemilu atau senantiasa digadang-gadang oleh mereka yang radikal tetapi tak pernah mengakomodasi dialog.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin mampu menyatakan kesucian tradisi-Mu dalam hidup konkret kami. Amin.


PESTA KELUARGA KUDUS: YESUS, MARIA, YOSEF
(Hari Kelima Natal Tahun C)
Minggu, 30 Desember 2018

1Sam 1,20-22.24-28
1Yoh 3,1-2.21-24
Luk 2,41-52

Posting 2015: Kitorang Keluarga Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s