Kitorang Keluarga Allah

Sebagian kisah Kitab Suci tak bisa diterima mentah-mentah sebagai kisah historis. Kisah penciptaan, misalnya. Lha siapa yang bisa jadi wartawannya saat bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (Kej 1,2 ITB)? Tak seorang pun bisa melaporkannya. Paling banter orang membuat gelar perkara, dengan mengandalkan logika dan sains.

Akibatnya, orang berspekulasi dan spekulasinya bisa dipatenkan sebagai teori penciptaan atau legitimasi ‘wahyu dari Allah’. Bisa jadi orang ribut karena perbedaan tajam antara teori penciptaan dan ‘wahyu dari Allah’ itu. Yang merasa diri pintar menyalahkan ‘wahyu dari Allah’ (padahal kejeniusan otak manusia bukanlah produksi dirinya sendiri), yang merasa diri takwa kepada Allah mengklaim semua-muanya sudah ada dalam Kitab Suci (padahal Kitab Suci ya nongol pada kurun waktu tertentu). Orang lupa bahwa di balik kenyataan historis tersembunyi kenyataan teologis yang hanya bisa dimengerti dengan kombinasi iman dan rasionalitas.

Contohnya kita pakai saja kisah Lukas hari ini. Mosok sih pada zaman Yesus kecil itu sudah ada aneka macam gawai dan relasi sosial yang memungkinkan seorang anak kabur atau luput dari perhatian orang tuanya? Mosok sih Maria dan Yosef sedemikian ceroboh membiarkan anak satu-satunya hilang dari rombongan?
Pertanyaan yang masuk akal ini bisa membuat pembaca ragu-ragu apakah yang disodorkan Lukas memang rekaman CCTV. Saya lebih cenderung menangkapnya sebagai suatu kenyataan teologis. Memang aneka skenario bisa disodorkan untuk membela penuturan Lukas sebagai kenyataan historis yang ‘sebenarnya terjadi’, tetapi mari telisik konteksnya.

Di awal teks dikatakan bahwa tiap tahun ortu Yesus ke Yerusalem untuk perayaan Paska. Mereka ini orang Yahudi yang setia pada tradisi. Ortu Yesus kiranya mengajarkan kepadanya tradisi perjamuan Paska dan Yesus tentu tahu pernik-pernik ritual perjamuan. Pada saat Yesus berumur 12 tahun, ia diajak pula ke Yerusalem. Bahwa kemudian Yesus lenyap dari perhatian ortunya pantas dimengerti sebagai bahan pertanyaan: apa sih yang hendak ditawarkan Lukas?

Tak ada nama Maria dan Yosef dalam teks itu. Hanya disebutkan orang tuanya dan ibunya. Nama yang disebut cuma Yesus dan memang dialah yang jadi pokok perhatian, yang tampaknya nyeleweng dari kebiasaan keluarga Yahudi. Lukas tak hendak mengedepankan sikap mbalelo Yesus, tetapi menunjukkan kebaruan yang diperlukan dalam tradisi. Orang tuanya mengira Yesus mengikuti kebiasaan keluarga Yahudi sehingga bisa jadi ia berada di rombongan kerabat dari Nazaret. Ternyata tidak! Bukan Yesus yang mengikuti tradisi, melainkan tradisi yang mesti mengikuti Yesus. Apa yang dibuat Yesus, yang pantas diikuti tradisi?

Dia getol dengan wacana keagamaan, tetapi bukan dengan tafsir lama terhadap hakikat Allah. Ia menegaskan bahwa Allah adalah Bapa bagi siapa saja sehingga konsekuensinya: torang samua basudara! Sudah sepantasnya aneka sekat yang memperuncing pemisahan dikikis untuk menyatakan kepada dunia bahwa Tuhan yang Maha Esa itu menjadi Allah bagi semua, bukan hanya bagi agama A atau kepercayaan K dan ideologi I. Ini cuma salah satu kenyataan teologis yang bisa disodorkan. Pokoknya, selamat Natal bagi semua dan semoga keluarga atau komunitas tak membangun sekat, melainkan perekat dengan Allah. Amin.


PESTA KELUARGA KUDUS: YESUS, MARIA, YOSEF
(Hari Ketiga dalam Oktaf Natal Tahun C)
Minggu, 27 Desember 2015

1Sam 1,20-22.24-28
1Yoh 3,1-2.21-24
Luk 2,41-52

Posting Tahun Lalu: Kiblat Hidup Berkeluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s